Kesulitan Jaringan Hambat TKA di Wera, Siswa Terpaksa Cari Sinyal di Luar Sekolah

Siswa SDN Ntoke Kecamatan Wera Kabupaten Bima terpaksa mengikuti TKA di luar lingkungan sekolah karena kendala jaringan internet.
Siswa SDN Ntoke Kecamatan Wera Kabupaten Bima terpaksa mengikuti TKA di luar lingkungan sekolah karena kendala jaringan internet.

Bima, Berita11.com– Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) tingkat Sekolah Dasar (SD) tahun 2026 yang berlangsung pada 20 hingga 30 April menghadapi tantangan serius di sejumlah wilayah Kabupaten Bima. Keterbatasan jaringan internet menjadi kendala utama yang mengganggu kelancaran ujian para siswa.

TKA merupakan sistem evaluasi baru pengganti Ujian Nasional (UN). Berbeda dengan UN, TKA tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan alat pemetaan kualitas pendidikan dengan fokus pada kemampuan literasi dan numerasi siswa. Namun, penerapan ujian berbasis digital ini memunculkan persoalan di daerah dengan infrastruktur jaringan yang belum memadai.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut terjadi di SDN Ntoke, Kecamatan Wera. Para siswa terpaksa mengikuti ujian di luar lingkungan sekolah demi mendapatkan akses jaringan yang lebih baik. Situasi ini dinilai memengaruhi kenyamanan dan konsentrasi siswa saat mengerjakan soal.

BACA JUGA:  20 Tahun Jalan Nunggi–Ntoke Rusak Parah, Warga Tuntut Tanggung Jawab Pemkab Bima

“Anak-anak harus keluar dari sekolah hanya untuk mencari sinyal. Ini sangat mengganggu proses ujian mereka,” ujar Abrar, salah satu tenaga pendidik di sekolah tersebut.

Lemahnya jaringan internet juga berdampak pada berbagai aktivitas administrasi pendidikan, seperti penginputan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), serta kegiatan pelayanan pemerintahan desa.

Operator SDN Ntoke Kecamatan Wera, Kurniawan mengungkapkan, kondisi kesulitan akses internet di sekolah setempat sudah berlangsung lama. Sejak hari pertama TKA, sekolah terpaksa mengarahkan siswa untuk mengikuti TKA di luar sekolah dan mencari sinyal internet di kebun warga.

Hal serupa disampaikan Al Buan, salah seorang guru di SMPN 6 Satap Wera. Ia mengatakan, setiap tahun siswa di sekolahnya harus menumpang di sekolah lain yang memiliki jaringan lebih baik untuk melaksanakan ujian berbasis online.

“Meski di sekolah kami sudah tersedia wifi, tetap tidak mampu mendukung pelaksanaan ujian berbasis online. Akhirnya siswa harus berpindah tempat,” jelasnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas pelaksanaan ujian. Gangguan jaringan berpotensi merusak konsentrasi siswa, menghambat akses soal, hingga mengganggu proses pengiriman jawaban.

BACA JUGA:  Bawaslu Dompu Gelar Evaluasi Pengawasan Logistik

Sementara itu, Kepala Desa Ntoke, Muhidin, berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Kami mewakili masyarakat Desa Ntoke berharap kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi agar segera mengambil tindakan. Jaringan di desa kami sangat sulit, sehingga komunikasi menjadi terhambat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dampak jaringan yang lemah sangat dirasakan para siswa yang sedang mengikuti TKA.

“Terutama anak-anak yang menjalankan ujian TKA, mereka sangat kesulitan karena jaringan yang tidak memadai,” katanya.

Masyarakat Desa Ntoke berharap adanya peningkatan infrastruktur telekomunikasi maupun solusi alternatif agar kegiatan pendidikan berbasis digital dapat berjalan lancar.

Kondisi ini menjadi catatan penting bagi Pemerintah Kabupaten Bima dan Pemerintah Provinsi NTB bahwa pemerataan akses internet masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama untuk mendukung transformasi digital di sektor pendidikan hingga wilayah pelosok. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

 

Pos terkait