BPBD Bima Catat 24.924 Jiwa Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Capai 50 Ribu Liter

Petugas BPBD Kabupaten Bima menyalurkan bantuan air bersih untuk ratusan kepala keluarga yang mengalami krisis air bersih akibat dampak bencana kekeringan dan cuaca panas (El Nino) di Kabupaten Bima.
Petugas BPBD Kabupaten Bima menyalurkan bantuan air bersih untuk ratusan kepala keluarga yang mengalami krisis air bersih akibat dampak bencana kekeringan dan cuaca panas (El Nino) di Kabupaten Bima.

Bima, Beirta11.com— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima mencatat sebanyak 7.929 kepala keluarga (KK) atau 24.924 jiwa terdampak bencana kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Bima pada 2026. Krisis air bersih tersebut telah menyebar di 12 kecamatan dan 35 desa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, Abdul Muis, mengatakan kekeringan yang terjadi merupakan dampak musim kemarau yang menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kekurangan pasokan air bersih.

Bacaan Lainnya

“Berdasarkan hasil monitoring dan pendataan di lapangan, kekeringan saat ini telah berdampak pada 12 kecamatan dengan 35 desa. Jumlah masyarakat terdampak mencapai 7.929 KK atau 24.924 jiwa,” ujar Abdul Muis berdasarkan data laporan BPBD Kabupaten Bima tahun 2026.

Menurut Abdul Muis, Kabupaten Bima merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana kekeringan. Faktor geografis dan kondisi iklim menjadi salah satu penyebab wilayah tersebut kerap menghadapi krisis air ketika memasuki musim kemarau.

BPBD Kabupaten Bima terus melakukan pemantauan terhadap wilayah terdampak sekaligus melakukan pendataan kebutuhan masyarakat untuk menentukan langkah penanganan. Laporan BPBD menyebutkan monitoring, pendataan, dan penanggulangan dilakukan secara intensif untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat terdampak.

BACA JUGA:  Pemuda 18 Kecamatan di Kabupaten Bima Dukung HMQ Melaju ke Senayan

Abdul Muis menjelaskan, wilayah terdampak tersebar di sejumlah kecamatan, dengan tingkat dampak yang berbeda-beda. Kecamatan Palibelo menjadi salah satu wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yakni 11 desa.

Di Kecamatan Palibelo, beberapa desa mengalami dampak cukup besar, seperti Desa Ntonggu dengan 3.696 jiwa terdampak, Desa Ragi sebanyak 1.116 jiwa, Desa Nata sebanyak 900 jiwa, serta Desa Roi sebanyak 681 jiwa.

Selain Palibelo, Kecamatan Belo juga menjadi wilayah yang mengalami dampak signifikan. Lima desa di wilayah tersebut masuk dalam daftar terdampak, yaitu Desa Runggu, Roka, Cenggu, Diha, dan Ncera. Desa Runggu tercatat sebagai salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak terbesar, yakni 2.067 jiwa atau 689 KK.

Sementara di Kecamatan Soromandi, Desa Bajo menjadi wilayah yang telah mendapatkan penanganan distribusi air bersih. Desa tersebut tercatat mengalami dampak kekeringan dengan jumlah warga terdampak mencapai 1.196 jiwa atau 299 KK.

 

Distribusi Air Bersih Baru 10 Rit

Abdul Muis menyampaikan, hingga saat ini BPBD Kabupaten Bima telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 50.000 liter atau 10 rit pengiriman.

“Distribusi air yang sudah berjalan saat ini difokuskan untuk Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, karena wilayah tersebut membutuhkan penanganan segera,” jelasnya.

BACA JUGA:  Gelagat Mencurigakan dari Mobil di Jalan Lintas Lakey, Polisi Sukses Amankan Narkoba dan Pemilik

Berdasarkan laporan BPBD, distribusi air ke Desa Bajo dilakukan secara bertahap. Pada Mei 2026 telah dikirim sebanyak empat rit, kemudian meningkat menjadi enam rit pada Juni 2026 untuk mengantisipasi kondisi kekeringan yang semakin meningkat di wilayah pesisir dan pegunungan.

Namun, Abdul Muis mengakui masih terdapat kebutuhan besar yang harus dipenuhi. Dari 35 desa terdampak, sebanyak 34 desa yang tersebar di 11 kecamatan masih belum mendapatkan distribusi air melalui alokasi APBD pokok BPBD.

“Masih ada kebutuhan yang cukup besar. Karena itu diperlukan langkah penanganan lebih luas, termasuk dukungan lintas sektor agar masyarakat terdampak bisa mendapatkan pelayanan air bersih,” kata Abdul Muis.

Mantan Camat Ambalawi ini menyebut, kondisi tersebut membutuhkan kemungkinan aktivasi status tanggap darurat yang lebih luas, penguatan kerja sama dengan dunia usaha melalui program CSR, serta pengusulan dukungan Dana Siap Pakai (DSP) kepada BNPB untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Abdul Muis menegaskan BPBD Kabupaten Bima akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta pihak terkait guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak kekeringan dapat terpenuhi.

“Penanganan kekeringan membutuhkan kerja bersama. Kami terus melakukan pendataan dan mengupayakan langkah-langkah agar masyarakat yang terdampak mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan,” pungkasnya. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait