Bima, Berita11.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi jurnalis. Teknologi ini dapat membantu mempercepat pekerjaan jurnalistik, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, verifikasi dan pemahaman terhadap etika jurnalistik.
Hal itu mengemuka dalam diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram Biro Bima bertajuk “Optimalisasi AI dalam Kerja Jurnalistik”, di Tuk-Tuk Coffee, Kota Bima, Minggu (30/8/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan jurnalis Susi Gustiana sebagai pemateri dan diikuti sejumlah jurnalis, pegiat media sosial, Persma, mahasiswa serta peserta lainnya.
Susi mengatakan, penggunaan AI kini semakin familiar di kalangan jurnalis. Perkembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari transformasi yang tidak dapat dihindari sehingga jurnalis perlu menyesuaikan diri.
“AI sudah familiar. AI memang sering dibahas dalam berbagai kegiatan. Kami juga pernah membahas bersama Dewan Pers mengenai tantangan profesi jurnalis terhadap transformasi AI. Mau tidak mau kita harus beradaptasi. Kalau tidak beradaptasi, kita akan tertinggal,” ujar Susi.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai pekerjaan jurnalistik, mulai dari riset, mengolah informasi, menyusun bahan berita hingga mendukung produksi konten media sosial.
Namun, AI tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu dan bukan pengganti kemampuan jurnalistik.
Salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah halusinasi AI, yakni ketika teknologi menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi sebenarnya keliru, tidak lengkap atau tidak memiliki dasar fakta yang kuat.
“Risiko yang harus selalu diperiksa dan diverifikasi ulang dari penggunaan AI adalah faktor halusinasi,” katanya.
Karena itu, informasi yang diperoleh melalui AI harus tetap diperiksa dan diverifikasi sebelum digunakan dalam produk jurnalistik.
Susi juga mengingatkan bahwa kualitas keluaran AI sangat dipengaruhi instruksi atau prompt yang diberikan pengguna. Instruksi yang tidak jelas dapat menghasilkan keluaran yang tidak sesuai kebutuhan.
“Kalau instruksinya buruk, output yang dihasilkan AI juga bisa buruk dan tidak berguna,” jelasnya.
Dalam pekerjaan jurnalistik, kata dia, proses wawancara, observasi lapangan, pengumpulan data, konfirmasi kepada sumber, cross check dan verifikasi tetap menjadi bagian penting yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh teknologi.
Terlebih untuk liputan mendalam dan investigasi yang membutuhkan proses panjang, peran utama tetap berada pada jurnalis.
“Dalam liputan membuat berita, kita banyak yang melupakan kualitas. Dalam liputan sehari-hari, ketika kita bermain di straight news, AI memang sangat membantu. Tetapi kalau kita bermain di kualitas, seperti liputan-liputan mendalam, AI harus menjadi alat bantu, bukan pemeran utama,” tegasnya.
Bersaing dengan Arus Informasi Media Sosial
Selain perkembangan AI, diskusi juga menyoroti perubahan lanskap media yang membuat jurnalis kini tidak hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga dengan akun media sosial individu.
Setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi secara cepat melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat media profesional perlu memiliki pembeda.
Menurut Susi, jurnalis tidak cukup hanya menjadi pihak yang paling cepat menyampaikan informasi. Karya jurnalistik harus memiliki akurasi, konteks, menarik dan memberikan nilai bagi masyarakat.
“Sekarang kita mengalami persaingan dengan akun media sosial individu. Karena itu, jurnalis harus memperkuat karya yang berkualitas dan menarik,” katanya.
AI, menurut dia, justru dapat dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan teknis sehingga jurnalis memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas.
Jurnalis Diminta Waspadai Keamanan Data
Diskusi juga membahas keamanan digital dan perlindungan data pribadi.
Salah satu senior AJI Mataram Biro Bima, Sofyan As’ary, mengingatkan jurnalis agar tidak sembarangan membagikan informasi pribadi di media sosial.
Menurutnya, semakin banyak data pribadi yang dibagikan secara terbuka di ruang digital, semakin besar pula potensi data tersebut dimanfaatkan atau disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ia mencontohkan kebiasaan pengguna media sosial yang mencantumkan informasi pribadi, seperti nama ibu kandung dan data lainnya.
Informasi yang dianggap sederhana tersebut, kata Sofyan, dalam kondisi tertentu dapat menjadi bagian dari data yang digunakan untuk memverifikasi identitas maupun mengakses layanan tertentu.
“Secara personal, kita harus memperhatikan keamanan. Semakin banyak kita mengumbar data pribadi di media sosial, potensi orang kemudian menyalahgunakan data kita juga semakin besar,” ungkapnya.
Karena itu, kesadaran terhadap keamanan digital juga perlu menjadi bagian dari profesionalisme jurnalis. Tidak hanya data pribadi, jurnalis perlu menjaga keamanan data liputan, sumber informasi, akun media sosial serta berbagai dokumen yang berkaitan dengan pekerjaan.
AI Sebagai Alat Bantu
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar jurnalis yang hadir telah mengetahui perkembangan AI. Namun, pola pemanfaatannya berbeda-beda.
Sebagian jurnalis memanfaatkan AI untuk pekerjaan tertentu, sementara lainnya masih membatasi penggunaan teknologi tersebut karena mempertimbangkan persoalan akurasi, etika dan risiko ketergantungan.
AI pada akhirnya dinilai bukan semata-mata sebagai ancaman terhadap profesi jurnalis. Teknologi tersebut dapat menjadi alat pendukung untuk mempercepat pekerjaan, membantu riset dan meningkatkan produktivitas.
Namun, kemampuan teknologi tetap tidak menggantikan tugas utama jurnalis dalam menemukan fakta, melakukan verifikasi, menggali informasi dan menyajikannya secara bertanggung jawab kepada publik. [B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News












