Berbekal Upah Rp650 Ribu di Warung Bakso, Putra Buruh Tani ini Sukses Kuliah hingga jadi Ketua DPM

Ramli Muhdar (Paling Kiri) Bersama Sejumlah Rekannya Sesama Kader HMI.

Usaha dan tekad kuat selalu membuahkan hasil manis bagi mereka yang selalu optimis menatap masa depan dan melukis mimpi-mimpi agar menjadi nyata. Setidaknya itu juga yang dirasakan Ramli Muhdar, mahasiswa semester akhir Program Studi Pendidikan Sejarah, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Kependidikan Taman Siswa (STKIP Tamsis) Bima yang sedang menyelesaikan skripsi.

Mimpi-mimpi itu disulam kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini sejak beberapa tahun lalu saat di bangku sekolah. Dia juga membasuhnya dengan doa dan usaha. Walaupun duduk di bangku kuliah tanpa modal biaya dari keluarga merupakan hal yang sukar, namun putra pasangan suami istri, Muhdar dan Ramlah warga Dompu ini tetap membulatkan tekad untuk kuliah, kendati awalnya tanpa restu dan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

Selepas tamat di bangku SMA, Ramli tak langsung mendaftar kuliah, namun dia mengumpulkan sedikit demi sedikit modal untuk biaya awal kuliah dengan bekerja di sebuah warung bakso di Dompu selama satu tahun.

“Saya memiliki keinginan untuk langsung melanjutkan studi di perguruan tinggi, Namun keinginan itu harus saya pendam, karena keterbatasan ekonomi keluarga yang tidak tidak mendukung. Setahun lebih saya kerja di warung bakso dengan gaji Rp650/bulan,” cerita Ramli.

Setelah berhasil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk mendaftar kuliah, Ramli tak lantas mengungkapkan keinginannya itu kepada kedua orang tuanya. Karena yang terbesit dalam pikirannya saat itu, keinginannya untuk kuliah akan menambah beban pikiran orang tuanya yang selama ini kesulitan menghidupi dia dan tiga saudaranya, karena hanya bisa  memeras keringat dengan menjadi buruh tani untuk menghidupi keluarga.

BACA JUGA:  Lewat Drama Adu Pinalti, PS Tamsis Tekuk Bina Taruna FC Dompu

“Pada saat berangkat dari rumah menuju kampus, saat itu saya minta izin pada keluarga bukan untuk kuliah, tetapi saya bilang, saya ke Bima ingin mencari pekerjaan, sehingga keluarga pun mengizinkannya,” kenang alumnus Madrasyah Aliyah Ponpes Al Ittihad ini.

Ramli Muhdar Bersama Rekannya di STKIP Taman Siswa.

Setelah satu bulan diterima sebagai mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah di STKIP Tamsis Bima, Ramli pun memberanikan diri berterus terang kepada kedua orang tuanya. Dia tidak tega menyimpan lama-lama rahasia itu tanpa restu dua orang yang disayanginya itu.

“Setelah beberapa bulan kuliah saya dapat telepon dari Ayah dan keluarga yang menanyakan tentang pekerjaan saya pada saat itu. Saya tidak punya alasan lain lagi selain mengatakan yang sebenarnya tujuan saya ke Bima. Ayah dan keluarga yang lain pun kaget mendengarkan bahwa saya sudah masuk kuliah, dengan nada tegas Ayah dan keluarga mempertanyakan dari mana saya dapat uang membiayai kuliah,”  cerita pria kelahiran Dompu, 4 Maret 1996 silam ini.

Ketika itu, Ramli pun berhasil meyakinkan orang tuanya bahwa dia mampu mendapatkan biaya untuk kuliah dan tidak akan membebani keluarganya. “Saat itu saya menjawab bahwa Ayah cukup memberikan semangat dan mendorong keinginan saya, Insya Allah pasti ada jalan untuk mendapatkan biaya kuliah,” ujarnya.

Ramli bersyukur, selama duduk di bangku kuliah di STKIP Taman Siswa dia mendapatkan banyak pengalaman termasuk bimbingan dari sejumlah dosen. Tak hanya pada sisi akademis, namun pendidikan nilai-nilai karakter atau sikap. Dia juga mengisi waktu luang di sela kuliah sambil bekerja serabutan untuk kebutuhan biaya kuliah dan hidup.

BACA JUGA:  STKIP Tamsis Bima Seleksi Jabatan Struktural dan Standardisasi Dosen

“Ada kebanggaan yang saya rasa kuliah di STKIP Taman Siswa, setiap ada kesulitan administrasi dan hal-hal teknis lainnya selalu ada kebijakan akademisnya. Bukan saja dari kampus, dalam HMI saya diajarkan dengan penuh rasa intelektual,” ujar alumnus SMPN Satap 5 Manggelewa Dompu ini.

Bagi alumnus SDN 16 Manggelewa ini, kuliah adalah salahsatu tahapan penting dalam manata masa depan. Demikian juga pengalaman berorganisasi, memiliki keterkaitan yang linear untuk masa depan. Ramli bersyukur pernah diberi kepercayaan oleh teman-temannya menjadi ketua Dewan Perwakilan Mahasiwa STKIP Tamsis pada tahun 2019.

“Pada saat di bangku sekolah saya juga selalu mengikuti kegiatan cerdas cermat. Bagi saya organisasi dan berbagai pengalaman penting ditekuni,” ujarnya.

Kini Ramli menantikan hari-hari akhir di jenjang bangku strata satu dengan terus berupaya merampungkan skripsinya sambil membangun mimpi-mimpi yang lain. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, dia bertekad melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi di tingkat magister. Karena baginya pendidikan merupakan salah satu tiket untuk menuju Roma atau meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik, di mana ada kemauan, di situ ada jalan (where there is a will, there is a way). [US]