Jangan Salah Kaprah, ini Beda Pertambangan dan Penambangan, Air dan Mineral

Mineral Bornite. Ist.
Mineral Bornite. Ist.

Berita11.com— Dunia tambang memiliki berbagai istilah tersendiri dan kamus khusus. Maka tak heran sebagian kalangan salah kaprah dengan istilah-istilah khusus itu. Misalnya tentang pertambangan dan penambangan atau maksud dari air mineral.

Secara umum pertambangan adalah salah satu jenis kegiatan yang melakukan ekstraksi mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam bumi yang meliputi kegiatan mengeluarkan sumber daya alam dari dalam bumi, sedangkan penambangan adalah proses pengambilan material yang dapat  diektraksi dari dalam bumi.

Tambang adalah tempat terjadinya kegiatan penambangan.

Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba, pertambangan dijelaskan sebagian atau seluruh  tahapan kegiatan dalam rangka penelitan dan pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliput penyelidikan umum dan eksplorasi dan studi kelayakan dan konstruksi dan penambangan, pengolahan dan pemurnian dan pengangkutan dan penjualan dan serta kegiatan pascatambang.

Sebagian pihak menganalogikan air dan mineral dalam kesatuan yang sama atau air mineral, padahal ditinjau dari aspek asal dan karakeristiknya air dan mineral merupakan dua hal yang memiliki unsur berbeda.

Air (H2O) adalah senyawa yang setiap molekulnya mengandung satu oksigen dan dua atom hidrogen yang dihubungkan oleh ikatan kovalen, sehingga dibutuhkan mahluk di bumi. Sementara itu, mineral ditinjau dari pengertiannya adalah zat padat anorganik yang terbentuk di alam secara anorganik, mempunyai komposisi kimia tertentu dan susunan atom yang teratur. Mineral memiliki sistem Kristal.

Kristal adalah zat padat yang mempunyai bentuk bangun beraturan yang terdiri dari atom-atom dengan susunan yang teratur. Kristal adalah bahan padat homogen, biasanya anisotrop dan tembus cahaya serta mengikuti hukum-hukum ilmu pasti sehingga susunan bidang-bidangnya memenuhi hukum geometri; Jumlah dan kedudukan bidang kristalnya selalu tertentu dan teratur.

Kristalografi sistem Kristal terdiri dari tujuh, yaitu sistem Isometrik atau biasa disebut sistem regular atau dikenal pula dengan sistem kristal  kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing sumbunya.

Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Isometrik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu a = b = c, yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalnya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚).

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Isometrik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c juga ditarik garis dengan nilai 3 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.

Sistem isometrik dibagi menjadi lima kelas, yaitu Tetaoidal, Gyroida, Diploida, Hextetrahedral, Hexoctahedral. Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Isometrik ini adalah gold, pyrite, galena, halite, Fluorite.

Sistem Tetragonal, sama dengan system Isometrik, sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama. Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya lebih panjang.

Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut kristalografinya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain (90˚).

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Tetragonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.

Sistem tetragonal dibagi menjadi tujuh kelas, yaitu Piramid, Bipiramid, Bisfenoid, Trapezohedral, Ditetragonal Piramid, Skalenohedral, Ditetragonal Bipiramid. Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal di antaranya rutil, autunite, pyrolusite, Leucite, scapolite.

Sistem Hexagonal. Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120˚ terhadap satu sama lain. Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).

Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.

ada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Hexagonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+.

Sistem  ini dibagi menjadi tujuh, yaitu Hexagonal Piramid, Hexagonal Bipramid, Dihexagonal Piramid, Dihexagonal Bipiramid, Trigonal Bipiramid, Ditrigonal Bipiramid, Hexagonal Trapezohedral. Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz, corundum, hematite, calcite, dolomite, apatite.

Sistem Trigonal. Sistem ini mempunyai nama lain yaitu Rhombohedral, selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal Hexagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem Trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.

Pada kondisi sebenarnya, Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Trigonal memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 20˚ ; dˉ^b+= 40˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20˚ terhadap sumbu bˉ dan sumbu dˉ membentuk sudut 40˚ terhadap sumbu b+.

Sistem ini dibagi menjadi lima kelas, yaitu Trigonal piramid, Trigonal Trapezohedral, Ditrigonal Piramid, Ditrigonal Skalenohedral, Rombohedral. Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Trigonal ini adalah  tourmaline dan cinabar.

Sistem Orthorhombik. Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda.

Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, ketiga sudutnya saling tegak lurus (90˚).

Orthorhombik memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30˚ terhadap sumbu bˉ.

Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas, yaitu Bisfenoid, Piramid, Bipiramid. Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Orthorhombik yaitu stibnite, chrysoberyl, aragonite dan witherite.

Sistem Monoklin. Monoklin berarti hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek.

Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ. Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut α dan β saling tegak lurus (90˚), sedangkan γ tidak tegak lurus (miring).

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Monoklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 30˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ.

Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas, yaitu Sfenoid, Doma, Prisma. Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite,  malachite, colemanite, gypsum, dan epidot.

Sistem Triklin. Sistem ini mempunyai tiga sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.

BACA JUGA:  Tak ada Pelonco, Hari ini 718 Maba STKIP Tamsis Ikut PPKMB

Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚. Hal ini berarti, pada system ini, sudut α, β dan γ tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.

Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^bˉ = 45˚ ; bˉ^c+= 80˚. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45˚ terhadap sumbu bˉ dan bˉ membentuk sudut 80˚ terhadap c+.

Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas, yaitu Pedial, Pinakoidal. Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite, anorthite, labradorite, kaolinite, microcline dan anortoclase.

Secara umum batuan penyusun litosfer terdiri dari tiga jenis batuan, yaitu batuan beku. Batuan beku atau yang disebut sebagai batuan igneus merupakan jenis batuan yang proses pembentukannya terjadi dari magma yang telah mengalami pembekuan atau pendinginan. Batuan baku biasanya ada di dalam mantel atau kerak bumi. Saat ini setidaknya sudah terdapat 700 jenis batuan beku yang dapat diindentifikasi di antaranya granit, riolit, diorite, andesite, gabbro, basalt dan dunit.

Morfologi atau cara terbentuknya batuan beku sertidaknya dibagi menjadi tiga macam yaitu intrusive, ekstrusif dan hipabissal. Batuan beku jenis intrusive merupakan batuan beku dimana proses pembentukannya terjadi di dalam kerak bumi atau di bawah permukaan bumi. Batuan ini merupakan bentuk dari pendinginan magma yang ada di dalam kerak bumi sehingga tekstur batuan beku biasanya bersifat kasar. Pada batuan beku bahkan bisa dilihat butiran mineral yang sangat jelas dan dapat dilihat oleh mata telangjang. Pada batuan beku terdapat formasi yang cukup unik yaitu batolit, stok, lakolit, sill, dan dike. Nah saat batuan sudah semakin mendingin dan membeku maka akan memunculkan batuan yang memiliki tekstur kasar seperti batu granit, diorite ataua grabo.

Biasanya di dalam lubang inti pada sebuah pegunungan akan diisi dengan batuan granit namun ketika lubang tersebut tertimbun oleh material lainnya akan membentuk batuan batolit. Batuan beku yang memiliki tekstur butir kasar yang terletak pada kedalaman cukup di dalam kerak disebut sebagai abyssal sedangkan batuan beku intrusive yang proses terbentuknya sudah hampir berada di permukaan disebut sebagai hypabyssal.

Berbeda dengan batuan beku intrusive, batuan beku ekstrusif ini terjadi di atas permukaan kerak bumi karena adanya pencairan magma di dalam mantel atau kerak bumi. Proses pembekuan dari batuan beku ini lebih cepat dibandingkan dengan proses pencairan batuan beku intrusive karena proses pembekuannya terjadi di atas permukaan bumi. Magma yang keluar dari dalam mantel atau kerak bumi ini melalui gunung berapi yang terdapat lubang dipuncaknya sehingg magma bisa keluar dan membentuk batuan yang lebih cepat membeku. Oleh karena itu tekstur dari batuan ini bersifat halus berpasir. Jenis batuan beku esktrusif yang paling sering ditemukan adalah batu basalt. Beberapa batuan basalt bahkan membentuk sebuah pola yang unik seperti di Antrim, Irlandia utara.

Jenis batuan ekstrusif dan intrusive agak sulit dibedakan karena biasanya keduanya memiliki tekstur kasar dengan butiran-butiran halus di permukaannya. Untuk membedakan keduanya biasanya hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan di bawah mikroskop karena mineral yang terdapat di dalam kedua jenis batuan ini berbeda sehingga jika ada penyebutan apakah itu merupakan batuan intrusive atau batuan ekstrusif di lapangan secara langsung hanyalah sebuah dugaan saja dan tidak bisa dipegang kebenaranya.

Batuan beku hipabissal merupakan jenis batuan yang terbentuk diantara batuan plutonik dan vulkanik. Batuan ini terbentuk karena adanya proses naik turunnya magma di dalam mantel dan kerak bumi. Batuan hipabissal seringkali membentuk sebuah batuan pakolit, dike, sill, lakolit, dan lopolit.

Struktur batuan merupakan penampakan dari batuan yang bisa dilihat dari kedudukan lapisannya. Pada batuan beku seringkali hanya dapat dilihat langsung dari lapangannya langsung. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pillow lava atau lava bantal dimana terjadi karena adanya pembekuan magma pada gunung di bawah laut yang membentuk menyerupai bantal. Joint struktur merupakan aliran lava yang berbentuk kekar-kekar dan tegak lurus sesuai dengan arah alirannya sehingga menghasilkan penampakan yang sangat memukau.

Massif, merupakan jejak aliran lava yang keluar dari perut bumi namun tidak menunjukkan adanya tanda-tanda lubang atau aliran gas di dalamnya. Vesikuler, merupakan aliran lava yang mengalir dan dibersamai dengan adanya aliran gas sehingga arah dan teksturnya tidak teratur. Xenolitis, merupakan aliran lava yang dibersamai dengan masuknya batuan lain di dalamnya sehingga menunjukkan sebuah fragmen yang membentuk pecahan-pecahan.

Batuan sedimen merupakan jenis batuan yang terbentuk di atas permukaan bumi dan dibekukan pada suhu dan tekanan udara yang rendah. Batuan sedimen sebenarnya merupakan bentukan dari batuan yang pernah ada sebelumnya yang sudah terkena berbagai jenis pelapukan dan erosi tanah.

Material hasil dari pelapukan dan erosi ini kemudian mengendap di dalam sebuah cekungan dan berkumpul menjadi satu sehingga lambat laun karena adanya tekanan udara dan suhu yang rendah menjadikan kumpulan tersebut sebuah batu baru. Material tersebut kemudian mengeras atau membentuk dan mengelami litifikasi sehingga menjadikan sebuah batuan sedimen.

Dalam permukaan bumi sendiri jumlah batuan sedimen ini diperkirakan mencapai 75% sedangkan di dalam kerak bumi diperkirakan ada 8%. Mempelajari batuan sedimen sangat bermanfaat bagi berbagai jenis cabang ilmu pengetahuan seperti geokimia, paleografi, klimatologi serta dari cabang ilmu sejarah kehidupan dan pembentukan muka bumi. Hal ini disebabkan karena setiap lapisan batuan sedimen dapat memperkirakan berapa lama waktu tersebut dan berapa lama usia bumi sebenarnya.

Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dibedakan menjadi empat jenis yaitu batuan sedimen klasik, batuan sedimen biokimia, batuan sedimen kimia dan batuan sedimen vulkanik. Selengkapnya mengenai ke empat jenis, yaitu batuan sedimen klasik.

Batuan sedimen klasik merupakan jenis batuan yang terdiri dari silikat dan beberapa fragmen batuan yang diangkut menggunakan sebuah fluida nah kemudian material yang diangkut oleh fluida ini akan terhenti dimana fluida ini juga terhenti.

Bentuk dan ukuran dari batuan sedimen klasik kemudian dibedakan lagi sesuai dengan skala ukuran partikel yang mendominasi dan menggunakan ukuran skala butir Udden-Wentworth. Kemudian para ahli membagi ukurannya menjadi tiga jenis yaitu kerikil (batuan yang memiliki diameter lebih dari 2 mm), pasir (batuan yang memiliki diameter antara 1/16 hingga 2 mm) dan lumpur (lumpur terbagi menjadi dua yaitu lempung yang memiliki diameter kurang dari 1/256 mm dan lanau yang memiliki diameter antara 1/16 hingga 1/256 mm).

Batuan sedimen biokimia menggunakan jasa dari berbagai organisme biasanya merupakan organism mikro yang ikut mengangkut material sehingga berkumpul pada tempat tertentu dan membentuk sebuah batuan. Pada batuan sedimen biokimia di antaranya batu gamping yang terbuat dari berbagai kerangka biota laut yang berkapur seperti diantaranya karang, foraminifera dan moluska.

Batubara yang terbuat dari tumbuhan dimana sudah dihilangkan karbonnya dari atmosfer dan proses ini dibantu oleh beberapa unsure lainnya. ini membuat batu bara memiliki bentuk yang unik dan proses dari tumbuhan menjadi batu bara ini membutuhkan waktu yang sangat lama.

Endapan rijang, yang terbentuk dari akumulasi kerangka yang mengandung zat silika dimana zat ini didapatkan dari berbagai biota laut yang memiliki ukuran mikroskopis contohnya adalah ladiolaria dan diatom.

Batuan sedimen kimia merupakan batuan yang terbentuk dari sebuha kejadian ketika kumpulan material terperangkap di dalam sebuah tempat dan kandungan mineral di dalam larutannya menjadi jenuh dan membeku dengan proses anorganik atau secara kimiawi. Contoh dari batuan sedimen kimia yang paling banyak ditemukan antara lain adalah batu gamping oolitik, dan batuan lain yang mengandung evaporit seperti silvit, halit, barit dan juga gypsum.

batuan sedimen vulkanis.  Batuan ini terbentuk karena beberapa hal di antaranya adalah adanya arus piroklastik, breksi vulkanik, breksi impact dan proses lainnya yang jarang sekali ditemukan dan hanya ada pada beberapa kasus saja.

Batuan Metamorf adalah jenis batuan ketiga adalah batuan metamorf atau yang juga sering disebut sebagai batuan malihan. Batuan metamorf merupakan sebuah batuan yang mengalami perubahan atau transformasi dari batuan lainnya yang sudah ada sebelumnya dan dibersamai dengan adanya proses metamorfosa sehingga membentuk bentuk baru yang berbeda dengan jenis batuan sebelumnya. jumlah dari batuan metamorf di dalam bumi ini cukup banyak dan pembentukannya sangat mudah karena adanya kedalaman tempat yang sangat dalam, adanya tekanan udara yang sangat rendah atau tinggi dan tekanan dari batuan yang sudah ada di atasnya.

Proses pembentukan batuan metamorf juga bisa terjadi karena adanya tabrakan lempeng benua yang bisa menyebabkan adanya tekanan horizontal, distorsi dan gesekan pada lempeng tersebut. Batuan metamorf juga bisa terbentuk karena adanya pemanasan dari magma yang ada di dalam perut bumi.

Jenis-jenis batuan metamorf di antaranya  batuan metamorfosis kontak. Proses terjadinya batuan metamorf kontak adalah adanya suntikan magma yang mengenai pada batuan disekitarnya. Perubahan ini adalah perubahan besar dimana hampir batuan yang terkena suhu yang sangat tinggi akan melakukan proses metamorphosis. Karena adanya proses ini juga bisa merubah biji mineral yang ada di dalam batuan. Semakin dekat letak batu dengan magma akan semakin besar pula proses perubahannya dibandingkan dengan batuan yang letaknya jauh dari magma.

BACA JUGA:  Anggota DPR RI Semangati Peserta Graduation Gathering STKIP Tamsis Bima

Ketika batuan mengalami kontak dengan magma juga mengakibatkan permukaan mineralnya menjadi lebih keras. Istilah untuk menyebut batuan yang telah mengalami proses metamorphosis ini biasanya disebut dengan batu tanduk (hornfless).

Kemudian batuan metamorf regional. Batuan metamorf regional merupakan sebuah kumpulan batuan metamorf dalam ukuran yang cukup besar dan luas. Sebagian besar batuan di bawah kerak bumi merupakan batuan metamorf yang mengalami proses metamorphosis ketika terjadinya tabrakan lempeng benua ini. Biasanya batuan metamorf  akan ada di sepanjang sabuk karena adanya tekanan suhu udara yang tinggi sehingga mengakibatkan batuannya mengalami perubahan struktur di dalamnya. Batuan metamorf regional ini contohnya adalah singkapan marmer yang sangat luas di Amerika Serikat.

Batuan Metamorf Katalakstik. Batuan ini terjadi karena adanya proses mekanisme deformasi mekanis. Jadi, ketika ada dua lempeng yang saling bergesekan maka akan menghasilkan panas yang sangat tinggi, nah bagian yang masih mengalami gesekan tersebutlah yang akan mengalami perubahan struktur di dalamnya. batuan tersebut juga biasanya akan hancur terlebih dahulu karena adanya tumbukan atau gesekan tertentu yang sangat lama dan kuat. Pada proses ini tidak biasanya terjadi pada zona sempit dimana terjadi pergerakan sesar secara mendatar.

Batuan metamorf hidrotermal. Batuan ini terjadi karena adanya perbuhana suhu dan tekanan udara yang sangat drastis Karena adanya cairan hidrotermal. Contoh dari batuan ini adalah batuan basaltic dimana didalam batuan tersebut memang sangat kekurangan cairan hidrat. Hasil endapan dari batuan ini akan bercampur dengan unsure-unsur lainnya seperti talk, klorit, tremolit, aktinolit dan lainnya. biasanya jika endapan terdapat bijihnya berarti merupakan batuan metamorf hidrotermal.

Batuan metamorf tindihan. Batuan metamorf tindihan ini merupakan hasil dari batuan yang tertimbun dalam kedalaman yang sangat dalam hingga mencapai perubahan suhu yang sangat drastis. Pada fase ini biasanya di dalam batu akan muncul sebuah mineral baru dan biasanya yang paling banyak dihasilkan adalah mineral zeolit. Batuan ini bisa berubah menjadi batuan metamorf regional jika terjadi perubahan suhu dan tekanan yang terjadi secara terus menerus.

Batuan metamorf dampak. Untuk batuan metamorf jenis ini terjadi karena adanya suatu kejadian seperti ketika meteor atau komet yang jatuh ke bumi hingga menyebabkan ledakan. Hal ini juga bisa terjadi karena adanya gempa bumi atau karena adanya letusan gunung api yang sangat besar. Karena adanya kejadian tersebut maka mengakibatkan tekanan yang sangat tinggi pada batuan-batuan yang terkena dampak dari kejadian tersebut. Tekanan ini mengakibatkan adanya perubahan mineral di batuan yang sangat tinggi seperti koesit dan stishofit. Selain itu batuan juga bisa berubah bentuk menjadi kerucut yang terpercah-pecah.

Secara garis besar jenis-jenis pertambangan dibagi tiga, yaitu tambang terbuka (surface mining), tambang bawah tanah (underground mining) dan tambang bawah air (underwater mining).

Pemilihan metode penambangan didasarkan pada keuntungan terbesar yang akan diproleh,  Selain pertimbangan keuntungan, terdapat beberapa faktor yang membatasi jenis atau tipe pemilihan metode penambangan, yaitu factor keselamatan, factor teknologi, faktor keekonomisan atau untuk menghasilkan biaya terendah dan mengembalikan keuntungan maksimum.

Aturan dari eksplorasi tambang adalah memilih suatu metoda yang paling sesuai dengan katakteristik alam, geologi dan lingkungan dari deposit mineral(Morison dan Russel 1973).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem penambangan yaitu, karakteristik spasial dari endapan. Faktor itu merupakan determinan terpenting, karena mempengaruhi dalam pemilihan suatu daerah yang akan ditambang dengan tambang terbuka atau tambang bawah tanah. Selain itu dipengaruhi laju produksi, pemilihan metoda penambangan material dan layout tambang dari cebakan.

Factor lainnya berkaitan kondisi geologi dan hidrogeologi. Karakteristik geologi dari material dan batuan induk sangat memengaruhi metoda penambangan, khususnya dalam pemilihan antara metoda selektif atau tidak. Hidrogeologi mempengaruhi sistem drainase dan pompa yang diperlukan, sedngkan mineralogi memengaruhi cara pengolahan mineral (pemurnian).

Selain itu, sifat-sifat geoteknik. Sifat ini lebih banyak terfokus kepada mekanika tanah dan batuan untuk disains kesetabilan lereng dan penyanggaan dari matrial endapan bernilai ekonomis dan batuan sekitarnya. Faktor dan merupakan faktor terpenting dalam pemilihan peralatan pada tambang terbuka.

Pertimbangan selanjutnya berkaitan konsiderasi ekonomi. Factor ini akan berperan besar untuk memengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengambilan dan keuntungan. Selain itu, factor teknologi.

Factor teknologi dipengaruhi oleh pemilihan jenis penambangan, sitem penambangan dan konsiderasi ekonomi, sehingga sangat terpengaruh dari target produksi dan pengeluaran.

Factor selanjutnya berkaitan lingkungan. Karena sifa dasar dari penambangan sangat erat hubungannya dengan lingkungan, mulai dari proses penambangan dapat mengubah lingkungan dari ekosistem suatu wilayah, topografi suatu wilayah (untuk tambang terbuka),  nilai ekonomi dari suatu lingkungan, situs hidrologi.

Metode ekslpoitasi  tambang terbuka (surface mining) dan tambang bawah tanah (underground mining) sangat dipengaruhi oleh karakteristik cebakan mineral/bijih.

Metode penambangan yang berhubungan langsung dengan udara luar di antaranya Open Pit. Metode biasanya diterapkan untuk menambang endapan-endapan bijih (ore). Secara umum dengan menggunakan siklus operasi penambangan yang konvensional, yaitu: pemecahan batuan dengan pemboran dan peledakan, diikuti operasi penanganan material penggalian, pemuatan dan pengangkutan, perbedaan open pit dengan open cut dicirikan oleh arah penambangan.

Open Pit apabila penggalian endapan dilakukan dari permukaan relatif mendatar menuju arah bawah dimana endapan tersebut berada. Disebut open cut apabila penggalian endapan bijih dilakukan pada suatu lereng bukit.

Selanjutnya Quarry  (Kuari), yaitu  metode tambang terbuka yang diterapka untuk menambang endapan-endapan bahan galian industri. berdasarkan letak bahan galian atau arah penambangan secara garis besar dibagi menjadi 2 golongan  side hill type, diterapkan untuk menambang batuan atau endapan mineral industri yang letaknya di lereng bukit. Kemudian Pit type, diterapkan untuk menambang batuan atau endapan mineral industri yang terletak pada suatu daerah yang relatif mendatar.

Strip Mine, sistem tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang endapan-endapan sedimenter yang letaknya kurang lebih mendatar misalnya tambang batu bara. Alluvial Mine adalah sistem tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang endapan-endapan alluvial misalnya tambang bijih timah, emas sekunder, pasir besi dan lainnya.

Selain metode tersebut, terdapat metode tak disangga, di antaranya Underground Gloryhole, kadang-kadang disebut juga underground milling karena bentuknya berupa corongan (mill hole). Corongan tersebut terdiri dari jenjang-jenjang (benches) yang membentuk lingkaran-lingkaran konsentris mengelilingi sebuah raise. Kadang-kadang sebelum penambangan dimulai, endapan bijih dibagi dalam blok-blok oleh beberapa level atau sublevel untuk menghubungkan beberapa raise dengan jarak tiap level antara 8-15 meter.

Gophering, nama lainya adalah Coyoting atau di Indonesia disebut lubang tikus atau lubang marmo), yaitu cara penambangan yang tidak sitematis, tidak perlu mengadakan persiapan-persiapan penambangan (development works) dan arah penggalian hanya mengikuti arah larinya endapan bijih. Oleh karena itu  ukuran lobang juga tidak tentu, tergantung dari ukuran endapan bijih ditempat itu dan tanpa penyanggaan. Cara penambangan ini paling sederhana, tanpa penyangga. Penggalian dilakukan tanpa alat-alat mekanis, oleh sebab itu sangat cocok untuk daerah-daerah yang upah buruhnya rendah.

Shrinkage stoping, adalah suatu cara penambangan yang termasuk overhand stoping tiap bagian (slices) dibor dan diledakan dari bawah, tumpukan hasil peledakan itu akan dibiarkan dilantai untuk dipakai sebagai tempat berpijak untuk pemboran berikutnya, penyangga itu selalu bertambah volumenya dikeluarkan dari tambang. Tetapi jika nanti blok sudah selesai ditambang, maka seluruh hasil penggalian yang berupa broken ore diambil semua lubang akan kosong.

Sub Level Stoping, penambangan sub level stoping dilakukan dengan membuat sublevel diantara dua levels yang berurutan. Pada umumnya, jarak antara 30-70 meter dan jarak antara sublevel 8-15 meter. Penambangan dapat dilakukan dengan overhand atau underhand, tetapi yang paling sering diterapkan adalah overhand stoping.

Cut and filling stoping, metoda ini menggunakan material pengisi (filling material) disamping penyanggaan yang teratur. Keduanya membutuhkan biaya tinggi, oleh sebab itu cara penambangan ini menjadi mahal, dan hanya endapan-endapan bijih yang bernilai tinggi saja yang dapat ditambang dengan metoda ini.

Stull stoping, merupakan metoda penambangan yang menggunakan penyanggaan kayu (timber), dan penyangga dipasang langsung dari hanging wall ke foot wall. Penyangga ini disebut stull. Penyanggaan ini bisa sistematis, tetapi bisa juga hanya dipasang setempat bila keadaan batuan memungkinkan.

Square Set Stoping, merupakan sistem penambangan dengan penyanggaan secara sistematis yang paling tegak lurus ke segala arah (3 dimensi). Penyanggaan berbentuk kerangka-kerangka kubus atau empat persegi panjang. Selain itu metode penambangan ini kadang-kadang dapat juga untuk melengkapi penambangan yang lainya  seperti pillar robbing, pengembalian pilar yang ditinggalkan, terutama pilar endapan bijihnya berkadar tinggi,  pembuatan undercut pada penambangan block caving, membuat underground station, ore storage atau ore bin, menggali bagian endapan sukar dicapai dengan metoda penambangan sistematis lain, misal off shot. (*)