Bima, Berita11.com – Puluhan siswa SDN Inpres Kalemba Kawuwu di Dusun Kalemba, Desa Kawuwu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, setiap hari harus belajar di bawah ancaman bangunan sekolah yang rusak berat. Atap ruang kelas yang lapuk dimakan rayap, plafon yang telah runtuh, hingga lantai yang mengalami kerusakan membuat keselamatan siswa dan guru terancam saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Kepala SDN Inpres Kalemba Kawuwu, Usman, mengatakan kerusakan bangunan sekolah telah berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut memaksa pihak sekolah beberapa kali memindahkan proses belajar mengajar ke luar ruangan demi menghindari risiko ambruknya atap.
“Kami sering meminta anak-anak belajar di luar kelas karena khawatir sewaktu-waktu atap roboh. Keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas kami. Dindingnya masih aman, tetapi yang rusak berat adalah atap dan lantainya,” ujar Usman, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, sekolah yang berdiri pada 1999 itu dibangun karena anak-anak Dusun Kalemba harus menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer menuju sekolah induk di Desa Kawuwu. Akses menuju sekolah saat itu cukup berat karena melewati jalan berbukit dengan tanjakan dan turunan.
“Karena jaraknya jauh dari sekolah induk di Desa Kawuwu, saya bersama beberapa guru berinisiatif mendirikan sekolah ini. Kasihan anak-anak harus berjalan sekitar tiga kilometer dengan kondisi jalan yang naik turun setiap hari,” katanya.
Selama lebih dari dua dekade berdiri, bangunan sekolah telah tiga kali mendapat rehabilitasi. Rehabilitasi pertama dilakukan pada 2009 untuk ruang kelas V dan VI, ruang guru, serta ruang kepala sekolah. Pada 2012, rehabilitasi menyasar ruang kelas III dan IV, sedangkan pada 2015 dilakukan perbaikan ruang kelas I dan II.
Saat ini SDN Inpres Kalemba Kawuwu memiliki 38 siswa dengan luas lahan sekitar tujuh are.
Meski telah beberapa kali direhabilitasi, kondisi bangunan sekolah kembali mengalami kerusakan cukup parah. Menurut Usman, kerusakan disebabkan usia bangunan yang sudah tua serta material kayu yang banyak dimakan rayap sehingga konstruksi atap menjadi rapuh.
“Kerusakan ini sudah cukup lama. Kayu-kayu pada atap banyak yang dimakan rayap dan sudah lapuk karena usia. Kemungkinan kualitas material yang digunakan saat itu juga sudah tidak mampu bertahan,” jelasnya.
Saat musim hujan, air kerap masuk ke dalam ruang kelas akibat atap yang bocor. Kondisi tersebut mengganggu kegiatan belajar mengajar karena sebagian ruangan tidak lagi layak digunakan.
Keterbatasan ruang kelas juga membuat pihak sekolah harus menggabungkan proses belajar. Siswa kelas I dan II belajar dalam satu ruangan yang dipisahkan menggunakan sekat tripleks. Hal serupa diterapkan pada siswa kelas III dan IV.
Kerusakan paling parah terdapat pada ruang kelas V dan VI. Sejumlah genteng pecah, kayu penyangga atap dan plafon telah lapuk dimakan usia, sementara plafon tripleks di beberapa bagian sudah lama ambruk sehingga rangka kayu menggantung dan berpotensi membahayakan penghuni kelas.
Selain ruang belajar, ruang kepala sekolah dan toilet sekolah juga mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dimanfaatkan.
Usman berharap Pemerintah Kabupaten Bima, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat maupun pihak lain dapat segera membantu merehabilitasi sekolah, khususnya pada bagian atap dan lantai yang dinilai paling mendesak.
“Kami berharap pemerintah daerah maupun pihak mana pun dapat membantu memperbaiki sekolah kami, terutama atap dan lantainya karena kondisinya sudah sangat membahayakan. Dengan begitu proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman,” harapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Kawuwu, M. Sidik, mengatakan kondisi SDN Inpres Kalemba sudah sepatutnya menjadi perhatian pemerintah karena sekolah tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat Dusun Kalemba.
Mewakili para orang tua siswa, ia mengaku warga setiap hari dihantui rasa cemas terhadap keselamatan anak-anak mereka yang belajar di sekolah tersebut.
“Kondisi SDN Inpres Kalemba sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian serius pemerintah daerah maupun pihak terkait. Para orang tua sangat khawatir terhadap keselamatan anak-anak mereka saat mengikuti kegiatan belajar mengajar,” ungkapnya.
Menurut M. Sidik, meski di Desa Kawuwu terdapat SDN Kawuwu yang berdiri lebih dahulu, jaraknya cukup jauh bagi anak-anak di Dusun Kalemba sehingga keberadaan SDN Inpres Kalemba menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Kalau harus ke SDN Kawuwu, jaraknya cukup jauh bagi anak-anak di Dusun Kalemba. Karena itu sekolah ini sangat penting bagi masyarakat, tetapi kondisinya sekarang sudah rusak parah,” katanya.
Ia menambahkan, akses jalan menuju Dusun Kalemba saat ini memang lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu setelah adanya pembangunan jalan oleh pemerintah. Namun, pada musim hujan beberapa titik ruas jalan dari Dusun Condo menuju Dusun Kalemba masih kerap tergenang banjir. Selain itu, kondisi jalan yang bergelombang dan didominasi tanjakan membuat mobilitas warga tetap tidak mudah.
Merujuk Data Pokok Pendidikan Kabupaten Bima, hingga saat ini di Kabupaten Bima tercatat 1.295 ruang kelas rusak ringan, 1.105 ruang kelas rusak sedang dan 204 ruang kelas rusak berat dari 3.602 jumlah ruang kelas. [B-22/B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News












