Bima, Berita11.com — Air bersih menjadi barang mahal bagi warga Desa Doridungga, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima. Setiap bulan, sebagian warga harus merogoh kocek hingga Rp1,5 juta hanya untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Kondisi itu dialami warga di tengah musim kemarau yang masih berlangsung. Untuk mendapatkan air, warga Doridungga harus membelinya dari desa sekitar yang memiliki sumber air, seperti Desa O’o, Kecamatan Donggo, dan Desa Bajo, Kecamatan Soromandi.
Warga RT 03 Dusun Manggenae, Desa Doridungga, Mastur mengaku harus mengeluarkan Rp150 ribu setiap kali membeli air. Dalam sebulan, pengeluaran untuk kebutuhan air rumah tangganya bahkan bisa mencapai Rp1,5 juta. Hal yang sama juga dilakukan warga lainnya.
Air yang dibeli digunakan untuk kebutuhan paling mendasar, mulai dari memasak, mandi hingga mencuci.
Beban yang sama juga dirasakan rumah ibadah di desa tersebut.
Menurut warga tersebut, pengurus masjid dan musala juga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan jamaah, termasuk untuk berwudu dan kebutuhan toilet. Sekali membeli, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp200 ribu.
“Air ini untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dihitung dalam sebulan, bisa sampai Rp1,5 juta,” ungkapnya di Desa Doridungga, Rabu (12/6/2025).
Rp100 Ribu-Rp150 Ribu Hanya Bertahan Tiga Hari
Kondisi serupa disampaikan Ketua RT 02 Dusun Rade Maju Desa Doridungga, Nurdin.
Menurut Nurdin, kesulitan mendapatkan air bersih masih dirasakan warga hingga saat ini. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa membeli air dengan harga antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu sekali beli.
Air yang dibeli pun tidak dapat digunakan dalam waktu lama.
Dengan kebutuhan rumah tangga yang cukup tinggi, sebagian warga harus kembali membeli air beberapa hari kemudian sehingga dalam sebulan pengeluarannya bisa mencapai jutaan rupiah.
“Warga memang masih kesulitan mendapatkan air bersih. Sekali beli sekitar Rp100 ribu sampai Rp150 ribu. Kalau dihitung dalam sebulan, bisa sampai jutaan rupiah,” kata Nurdin.
Rp400 Ribu untuk Satu Tandon
Tokoh masyarakat Dusun Rade Maju, Bukhari Abdul Hamid, mengatakan persoalan kekeringan dan keterbatasan air bersih di Doridungga bukan masalah baru. Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Warga terpaksa membeli air dari Desa O’o dan Desa Bajo yang memiliki sumber air tanah lebih memadai. Untuk pembelian dalam jumlah besar, warga harus menyiapkan biaya yang jauh lebih tinggi.
Satu power tank atau tandon berkapasitas sekitar 1.100 liter dapat dibeli dengan harga Rp300 ribu hingga Rp400 ribu.
“Kita di sini masih kesulitan air bersih. Kalau beli satu tandon 1.100 liter, harganya bisa Rp300 ribu sampai Rp400 ribu,” ujar Bukhari.
Menurut dia, persoalan tersebut menjadi ironi bagi masyarakat yang setiap hari harus memenuhi kebutuhan dasar dengan kondisi ekonomi yang tidak mudah. Sebab, air yang dibeli bukan untuk kebutuhan tambahan, melainkan untuk memasak, mandi, mencuci hingga kebutuhan beribadah.
Bukhari menjelaskan, berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan untuk membantu masyarakat mendapatkan air bersih.
Di antaranya melalui bantuan pompa hidran dari TNI serta bantuan mesin pompa yang mengambil air dari sumber mata air Mada Oi Kangga.
Mesin pompa tersebut, kata dia, disediakan pengusaha asal Desa Wadukopa, Kecamatan Soromandi, H. Zakariah.
Bantuan itu cukup membantu warga, tetapi belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat.
Setiap rumah, kata Bukhari, hanya mendapatkan jatah sekitar 60 liter air. Selain itu, mesin tidak selalu dapat beroperasi setiap hari.
Kondisi tersebut membuat warga tetap membutuhkan sumber air alternatif.
“Setiap rumah hanya mendapatkan sekitar 60 liter. Itu juga tidak setiap hari bisa beroperasi karena debit di sumber air terbatas. Jadi memang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Karena itu, Bukhari berharap pemerintah menghadirkan solusi yang lebih permanen sehingga persoalan air tidak selalu berulang setiap musim kemarau.
Khawatir Kemarau Makin Parah
Hal senada disampaikan warga RT 12 Dusun Lakeke, Hj Sa’biah.
Ia mengatakan sebagian besar warga Doridungga masih harus membeli air dengan harga Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, yang umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar tiga hari.
Jika membeli air dalam jumlah lebih banyak, warga harus menyiapkan biaya hingga Rp400 ribu untuk satu tandon.
Hj Sa’biah khawatir kondisi tersebut semakin berat ketika memasuki akhir Agustus dan September 2026 yang diperkirakan menjadi periode puncak kemarau.
Ia berharap pemerintah serius menangani persoalan air bersih sekaligus memperhatikan kondisi infrastruktur jalan di dusun setempat.
Menurutnya, akses jalan yang memadai juga penting untuk memperlancar distribusi air kepada masyarakat ketika sumber air semakin sulit diperoleh.
3.212 Jiwa Tinggal di Doridungga
Desa Doridungga merupakan salah satu desa yang berada di wilayah dataran tinggi Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima.
Berdasarkan data, desa tersebut memiliki 3.212 jiwa, terdiri dari 1.596 laki-laki dan 1.616 perempuan, dengan jumlah 871 kepala keluarga.
Bagi masyarakat di desa tersebut, persoalan air bukan sekadar persoalan musim kemarau. Kekeringan telah menjadi persoalan yang terus berulang dan membebani pengeluaran rumah tangga.
Bukhari bahkan menyebut warga Doridungga belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan ketika kebutuhan dasar seperti air bersih masih harus dibeli dengan biaya hingga jutaan rupiah setiap bulan.
“Kami belum sepenuhnya merdeka. Untuk kebutuhan vital seperti air bersih saja, masyarakat masih harus mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah setiap bulan,” ujarnya.
43 Desa di Bima Berpotensi Terdampak Kekeringan
Persoalan yang dialami warga Doridungga menjadi bagian dari ancaman kekeringan yang lebih luas di Kabupaten Bima.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima memetakan 43 desa di 15 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026.
Ancaman tersebut diperkirakan berdampak terhadap 8.665 kepala keluarga atau 27.343 jiwa.
Dengan ancaman kemarau yang diperkirakan semakin terasa pada Agustus hingga September, warga Doridungga berharap pemerintah tidak hanya hadir ketika kondisi sudah semakin parah.
Mereka membutuhkan solusi yang mampu memastikan air bersih tersedia secara berkelanjutan. Sebab, bagi warga Doridungga, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air adalah kebutuhan untuk bertahan hidup.
Dan selama kebutuhan itu masih harus dibeli hingga menghabiskan jutaan rupiah setiap bulan, perjuangan mereka untuk terbebas dari kekeringan masih belum berakhir. [B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News












