Laptop Hilang, Eri tak Berhenti Belajar: Dari Perpustakaan Kampus hingga Menjadi Wisudawan Terbaik II

Eri Suryaningsih dan mama tercinta mengabadikan momen usai mengikuti wisuda XXII di STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).
Eri Suryaningsih dan mama tercinta mengabadikan momen usai mengikuti wisuda XXII di STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).

BAGI sebagian mahasiswa, laptop mungkin hanya sebuah perangkat untuk mengerjakan tugas. Namun bagi Eri Suryaningsih, komputer menjadi bagian penting dari perjuangannya menyelesaikan pendidikan.

Perempuan asal O’O, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, itu pernah harus menjalani hari-hari kuliah tanpa laptop. Semua bermula ketika ia mendapat tugas dari dosen untuk membuat sebuah buku. Saat itu, Eri belum memiliki laptop sendiri sehingga ia meminjam laptop milik kakaknya.

Bacaan Lainnya

Pekerjaan hampir selesai ketika laptop tersebut justru hilang. Situasi itu bisa saja membuat seseorang berhenti sejenak, bahkan kehilangan semangat. Namun Eri memilih mencari jalan lain. Ia kemudian mengerjakan kembali tugas tersebut menggunakan komputer yang tersedia di perpustakaan kampus.

Setiap hari, setelah teman-temannya pulang, Eri justru menuju ruang perpustakaan Kampus 2. Dari pagi hingga sore, ia menghabiskan waktu di depan komputer untuk menyelesaikan berbagai tugas kuliahnya. Kebiasaan itu bahkan berlangsung hingga beberapa semester.

“Saat tidak ada laptop, saya selalu mengerjakan tugas di kampus dari pagi sampai sore. Ketika teman-teman pulang, saya langsung ke ruang perpustakaan karena di sana ada beberapa komputer,” kenang Eri.

Bagi Eri, kehilangan laptop bukan alasan untuk menghentikan langkah. Ia justru belajar bahwa keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi penghalang untuk menyelesaikan pendidikan.

Perjuangan tersebut akhirnya membawanya pada pencapaian yang mungkin tidak pernah ia bayangkan ketika pertama kali memasuki bangku kuliah. Eri berhasil menyelesaikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dengan IPK 3,98 dan menyandang predikat  Wisudawan Terbaik II.

 

Kuliah Sambil Mengejar Beasiswa

Eri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga yang ia sebut berkecukupan, dengan ayah dan ibu yang sama-sama berprofesi sebagai guru. Dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan utama selama menjalani pendidikan.

Meski demikian, Eri tidak ingin sepenuhnya bergantung pada kondisi keluarga. Selama kuliah, ia aktif mengejar berbagai peluang beasiswa untuk membantu menopang kebutuhan pendidikannya.

Ketika masa perkuliahan sedang libur, ia juga tidak sekadar beristirahat. Eri memilih pulang ke kampung halaman untuk membantu ibunya di ladang, terutama ketika musim tanam jagung tiba.

Ada dua dunia yang ia jalani secara bergantian: ruang kuliah dan ruang belajar akademik di satu sisi, serta ladang di kampung halaman di sisi lainnya. Keduanya menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya hingga mencapai hari wisuda.

BACA JUGA:  Gelagat Mencurigakan dari Mobil di Jalan Lintas Lakey, Polisi Sukses Amankan Narkoba dan Pemilik

“Saya selalu mengejar beasiswa ketika kuliah. Ketika hari libur, saya pulang ke kampung untuk membantu Mama di ladang saat musim tanam jagung,” ujarnya.

Dari perjalanan itu, Eri tidak hanya membawa pencapaian akademik. Ia juga memperoleh pengalaman yang memperkaya kemampuannya sebagai calon pendidik.

Selama menjadi mahasiswa, Eri aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Pada 2024, ia lolos Kampus Mengajar Angkatan 7 dan menjalani penugasan selama enam bulan di SDN 19 Rabangodu Utara, Kota Bima.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk berhadapan langsung dengan dunia sekolah dan peserta didik. Ia juga terlibat dalam penelitian bersama dosen melalui kegiatan Penelitian Dasar Skema Penelitian Kerja Sama Antarperguruan Tinggi dengan topik pengembangan modul IPAS berbasis etnosains dan green chemistry melalui pendekatan meaningful learning untuk meningkatkan literasi peserta didik SD.

Pengalaman akademiknya bahkan berlanjut hingga publikasi ilmiah. Eri berhasil menghasilkan artikel berjudul Development of Project-Based E-Instruments Assisted by Digital Learning Platforms to Enhance Student Creativity in Indonesian Language Lessons yang diterbitkan pada jurnal terindeks Sinta 3.

Di luar kegiatan akademik, ia juga pernah aktif di Lembaga Dakwah Kampus Al-Muhajirin dan Koperasi Mahasiswa Beradab. Ia juga pernah mengikuti pelatihan vokasi nasional bidang menjahit selama satu bulan pada 2026.

Dari berbagai kegiatan tersebut, dua pencapaian yang paling ia banggakan adalah memperoleh beasiswa subsidi selama kuliah dan berhasil lolos Kampus Mengajar Angkatan 7.

 

Guru, Dosen, dan Keinginan untuk Terus Belajar

Sejak kecil, Eri sudah memiliki cita-cita menjadi guru. Cita-cita itu belum berubah sepenuhnya. Setelah menyandang gelar sarjana, ia ingin tetap berada di dunia pendidikan. Jika mendapat kesempatan dan rezeki, Eri ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan suatu hari menjadi dosen.

Untuk sementara, ia berencana mengajar sambil mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai peluang, termasuk seleksi CPNS. Baginya, menjadi sarjana pendidikan bukan sekadar memperoleh gelar.

“Menjadi seorang sarjana pendidikan bagi saya bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga menjadi awal dari sebuah tanggung jawab untuk terus belajar dan memberikan manfaat bagi dunia pendidikan,” katanya.

Pandangan itu pula yang membuat Eri memandang tantangan pendidikan ke depan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi. Menurutnya, perubahan karakter dan kebutuhan peserta didik serta tuntutan pembelajaran yang semakin kreatif dan relevan menjadi tantangan tersendiri bagi guru.

Guru, kata dia, harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi tanpa meninggalkan nilai karakter dan kemanusiaan. Karena itu, Eri ingin terus mengembangkan kompetensinya, terutama dalam pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

BACA JUGA:  Terjepit Efisiensi: Ruang Kelas Rusak dan Anggaran Pendidikan di Kabupaten Bima

Ia ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membantu anak-anak mengembangkan karakter, kreativitas, dan kepercayaan diri.

Eri juga berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan memberikan perhatian lebih terhadap pemerataan kualitas pendidikan di daerah, termasuk fasilitas, akses teknologi, dan pengembangan kompetensi guru.

“Kebijakan pendidikan juga perlu memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah sehingga guru dapat menjalankan tugasnya dengan lebih optimal dan peserta didik mendapatkan kesempatan belajar yang baik,” harapnya.

Baginya, guru memiliki posisi penting dalam menentukan masa depan seorang anak.

 

Empat Tahun yang Dibayar dengan Perjuangan

Empat tahun perkuliahan bagi Eri bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada tugas, keterbatasan fasilitas, perjalanan pulang ke kampung, membantu orang tua di ladang, mengejar beasiswa, hingga pengalaman belajar langsung di sekolah melalui Kampus Mengajar. Namun, ia tidak pernah sampai pada titik ingin menyerah.

Kini, semua perjalanan itu bermuara pada satu pencapaian: toga, gelar sarjana, dan predikat Wisudawan Terbaik II.

“Empat tahun perjalanan ini mengajarkan saya bahwa di balik setiap lelah, air mata, dan doa yang dipanjatkan, selalu ada alasan untuk terus bertahan hingga akhirnya perjuangan ini sampai pada sebuah pencapaian,” tuturnya.

Di hari wisuda, ada dua nama yang paling ingin ia bahagiakan: Burdan dan Ernawati, ayah dan ibunya. Kepada keduanya, Eri menyampaikan terima kasih atas dukungan yang tidak pernah putus. Terutama kepada sang ibu yang, menurut Eri, tidak hanya menanyakan hasil kuliah, tetapi juga memahami proses yang dilaluinya.

“Mama selalu menanyakan kabar, tugas, dan bagaimana kuliah Eri. Mama tidak hanya menanyakan hasilnya, tapi Mama paling tahu proses Eri ketika kuliah. Mama tidak mengekang dan menuntut, namun selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya,” katanya.

Kepada ayahnya, Eri juga menyampaikan terima kasih karena terus mendukung pendidikan anak-anaknya dan berusaha memberikan yang terbaik. “Beribu-ribu maaf untuk Mama dan Ayah. Semua pengorbanan kalian sangat berarti bagi Eri,” ucapnya.

Dari ruang perpustakaan yang menjadi tempatnya mengerjakan tugas ketika tak memiliki laptop, dari ladang di O’O tempat ia membantu orang tua saat libur, hingga ruang wisuda tempat ia menerima gelar sarjana, Eri membawa satu pelajaran yang sama, keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti.

Selama masih ada kemauan untuk mencari jalan, perjuangan pendidikan selalu memiliki kemungkinan untuk sampai pada tujuan. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait