Bima, Berita11.com—Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII, Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU., ASEAN.Eng, menyampaikan empat alasan yang menurutnya menjadi dasar masyarakat memilih STKIP Taman Siswa Bima sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi.
Keempat alasan tersebut yakni akreditasi, sarana dan prasarana, kualitas dosen, serta jejaring yang dimiliki STKIP Taman Siswa Bima.
Hal itu disampaikan I Gusti Lanang Bagus Eratodi dalam sambutannya pada Rapat Senat Terbuka Wisuda Strata Satu (S1) XXII STKIP Taman Siswa Bima di Auditorium Sudirman Kampus STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, perkembangan STKIP Taman Siswa Bima menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan, baik dari sisi akreditasi, fasilitas kampus, kualitas sumber daya manusia maupun jejaring kerja sama.
“Akreditasi, sarpras, dosen, dan jejaring,” katanya saat menyebut empat faktor yang menjadi dasar masyarakat memilih STKIP Taman Siswa Bima.
Ia mengatakan, dari sisi akreditasi, STKIP Taman Siswa Bima telah menunjukkan perkembangan. Menurutnya, aspek tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting masyarakat dalam menentukan perguruan tinggi tempat melanjutkan pendidikan.
Selain akreditasi, ia menyoroti sarana dan prasarana yang dimiliki kampus.
I Gusti Lanang menilai fasilitas STKIP Taman Siswa Bima termasuk yang baik di wilayah Nusa Tenggara Barat.
“Kalau saya berkeliling di NTB, kampus-kampusnya, sarpras yang terbaik di NTB, saya berikan applause,” ujarnya.
Ia kemudian menyoroti faktor ketiga, yakni kualitas dosen. Menurutnya, sumber daya dosen menjadi salah satu kekuatan penting perguruan tinggi. Ia menyebut sekitar 60 persen dosen STKIP Taman Siswa Bima telah menempuh pendidikan magister (S2).
Selain itu, sejumlah dosen juga tengah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia menyebut STKIP Taman Siswa Bima telah memiliki 14 doktor dan sejumlah dosen yang sedang dipersiapkan menuju jenjang guru besar.
“Mudah-mudahan ke depan semoga ada tujuh guru besar yang lahir di STKIP Taman Siswa,” katanya.
Faktor keempat yang disorot adalah jejaring. Menurutnya, jejaring dan kemitraan menjadi bagian penting dalam pengembangan perguruan tinggi. STKIP Taman Siswa Bima tidak hanya membutuhkan kekuatan internal kampus, tetapi juga hubungan dengan berbagai pihak di luar kampus.
Ia menyebut pemerintah, dunia industri, masyarakat, mahasiswa dan para dosen sebagai bagian dari jejaring yang dapat memperkuat pengembangan perguruan tinggi.
“Kita akan pastikan bahwa mitra-mitra di STKIP Taman Siswa ini adalah keluarga, industri, pemerintah, adik-adik, dan dosen-dosen yang luar biasa,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala LLDikti Wilayah VIII juga mengingatkan para wisudawan mengenai tantangan dunia pendidikan yang terus berubah.
Ia berharap para lulusan STKIP Taman Siswa Bima segera berkiprah sebagai tenaga pendidik dan menjadi guru yang andal.
Menurutnya, guru memiliki posisi penting dalam membangun kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.
“Seluruh wisudawan-wisudawati hari ini, kami harapkan segera mulai memancarkan harapan menjadi seorang tenaga pendidik guru yang andal karena adik-adiklah yang menjadi ujung tombak kesejahteraan, kebahagiaan, dan Indonesia Emas di tahun 2045,” katanya.
Ia juga menyinggung perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), robotik dan berbagai teknologi lainnya yang semakin mempercepat perubahan dalam dunia pendidikan.
Namun, ia mengingatkan para lulusan agar perkembangan teknologi tersebut tetap diiringi integritas akademik.
“Teknologi, IT, AI, robotik, dan berbagai hal mempercepat proses pendidikan di masa yang akan datang. Tetapi kami yakin produk-produk industri itu adalah hasil karya manusia dan pastinya kalianlah yang bisa mengelolanya,” ujarnya.
Ia kemudian memberikan contoh penggunaan AI dalam mengedit foto. Teknologi tersebut, kata dia, dapat membuat hasil yang terlihat nyata, tetapi pada saat diperhatikan lebih jauh bisa saja menghasilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Contoh tersebut disampaikan untuk menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara bijak.
Menurutnya, teknologi harus menjadi sarana untuk mempercepat proses, bukan menggantikan integritas dan kemampuan manusia.
“Akademiknya jalan, pembelajarannya jalan, dan kemudian sarana-sarana tadi itu adalah sarana untuk mempercepat proses tetapi tidak mengurangi integritas dan adik-adikkalah yang nantinya bisa menjalankannya,” katanya.
Selain berbicara mengenai perguruan tinggi dan tantangan teknologi, I Gusti Lanang juga mengingatkan para wisudawan agar tidak melupakan jasa orang tua.
Ia mengatakan keberhasilan para lulusan hari ini tidak terlepas dari perjuangan dan pengorbanan orang tua selama mereka menempuh pendidikan.
Ia meminta para wisudawan menunjukkan bahwa perjuangan dan pengorbanan tersebut tidak sia-sia. Menurutnya, kebahagiaan yang dirasakan para wisudawan pada momentum wisuda merupakan buah dari perjuangan panjang, termasuk dukungan orang tua.
Ia berpesan agar para lulusan terus menghormati, merawat dan membahagiakan orang tua selama mereka masih ada. “Rawatlah seluruh orang tua kalian dan cium mereka dengan hangat,” pesannya.
Bagi I Gusti Lanang, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari gelar yang diperoleh, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut digunakan setelah para lulusan kembali ke tengah masyarakat. Karena itu, ia berharap lulusan STKIP Taman Siswa Bima mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. [B-19/Advetorial]
Follow informasi Berita11.com di Google News












