Tumbuh Bersama Ibu dan Kuliah dengan Fasilitas Terbatas, Yula Raih Magna Cumlaude

M. Hayyula Rahman dan ibunda tercinta foto bersama usai mengikuti prosesi wisuda XXII di Auditorium Sudirman STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/6/2026).
M. Hayyula Rahman dan ibunda tercinta foto bersama usai mengikuti prosesi wisuda XXII di Auditorium Sudirman STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/6/2026).

TIDAK semua mahasiswa menjalani masa kuliah dengan fasilitas yang lengkap. Ada yang harus beradaptasi dengan keterbatasan kendaraan, sumber daya, hingga situasi keluarga yang tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan.

Hayyula Rahman atau Yula memilih untuk tetap melangkah di tengah kondisi tersebut.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris itu tumbuh bersama ibunya, Humairah. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Yula menjalani perjalanan pendidikan dengan dukungan keluarga yang menurutnya cukup, meski tidak sepenuhnya tanpa persoalan.

“Ada banyak polemik di belakang itu,” ungkapnya ketika menceritakan dukungan keluarga selama perjalanan pendidikannya.

Namun, berbagai keterbatasan tersebut tidak membuat Yula berhenti mengejar pendidikan.

Selama kuliah, salah satu pengalaman yang paling membekas baginya justru adalah bagaimana ia menjalani aktivitas kampus tanpa kendaraan pribadi dan dengan sumber daya yang minim.

Bagi sebagian mahasiswa, kondisi semacam itu mungkin menjadi hambatan. Bagi Yula, hal tersebut menjadi bagian dari proses yang harus dijalani. Ia tetap mengikuti perkuliahan, organisasi, kegiatan kampus, hingga berbagai aktivitas lain yang memperkaya pengalaman akademiknya. Hingga akhirnya, mahasiswa asal Desa Tangga, Kecamatan Monta, itu berhasil menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,92 dan masuk dalam jajaran wisudawan terbaik.

Ketika masih kecil, Yula memiliki cita-cita menjadi dokter. Namun, perjalanan hidup membuatnya melihat cita-cita dengan cara yang berbeda. Ia kemudian mengubah arah sesuai dengan realita dan kondisi ekonomi yang dihadapinya.

Keputusan tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk terus berkembang. Ia justru menemukan jalannya sendiri melalui Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam proses akademiknya, Yula mengangkat tema yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.

Skripsinya berjudul The Effectiveness of ChatGPT as Writing Partner for Grammar and Vocabulary Correction, yang mengkaji efektivitas ChatGPT sebagai mitra dalam membantu koreksi tata bahasa dan kosakata dalam penulisan. Tema tersebut memperlihatkan ketertarikannya pada persinggungan antara kemampuan bahasa Inggris dan perkembangan teknologi.

BACA JUGA:  Jejak Perjuangan M Yahya, Peraih Cumlaude di UM Bima, Pernah jadi Buruh hingga Aktif di OKP

Di luar kegiatan akademik, Yula juga menjadi bagian dari HIMABI, organisasi mahasiswa yang menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan kuliahnya. Ia juga mengikuti program Kampus Mengajar, menjadi peserta dalam kegiatan mahasiswa berprestasi (Mapres), serta menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Dari seluruh pengalaman itu, menjadi bagian dari HIMABI dan berhasil menyandang predikat wisudawan terbaik menjadi dua momen yang paling ia ingat selama menjadi mahasiswa.

 

Pernah Down, tetapi Tidak Memilih Berhenti

Yula mengaku tidak pernah sampai pada titik ingin menyerah menyelesaikan kuliah. Namun, ia pernah mengalami masa ketika kondisi mentalnya menurun, terutama pada semester akhir. Saat itu, ia menyadari bahwa perjalanan setelah lulus akan menghadirkan tantangan yang berbeda.

Yula mengatakan, ia memahami kemampuan akademik dan sosial yang dimilikinya. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa dirinya tidak terbiasa dengan pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik. Karena itu, menyelesaikan pendidikan menjadi bagian penting dari jalan yang ingin ditempuhnya.

“Saya tak punya pilihan lain,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana ia memandang pendidikan sebagai salah satu modal penting untuk menghadapi kehidupan setelah kampus.

Dalam perjalanan tersebut, ia tidak berjalan sendirian. Selain sang ibu, ada sejumlah orang yang menurutnya memiliki jasa besar dalam masa studinya. Salah satunya adalah Ustaz Muhammad Yusuf, M.Pd., serta seorang perempuan bernama Maryam yang ia panggil Ua. Keduanya memberikan dukungan, baik berupa motivasi maupun bantuan finansial.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari energi yang membuat Yula terus bertahan hingga menyelesaikan pendidikan.

 

Wisuda sebagai Pintu Menuju Masa Depan

Bagi Yula, wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Justru sebaliknya, wisuda merupakan pintu sekaligus pendorong menuju masa depan yang belum sepenuhnya ia ketahui. “Masa depan adalah gray area dan wisuda adalah pintu dan pendorongnya,” ujarnya.

Setelah menyandang gelar sarjana, Yula tidak secara khusus menargetkan diri untuk langsung masuk ke dunia pendidikan sebagai guru. Ia ingin bekerja terlebih dahulu, dengan beberapa pilihan seperti perbankan atau pegadaian. Meski demikian, nilai-nilai yang ia peroleh dari pendidikan tetap ingin dibawanya ke mana pun ia bekerja.

BACA JUGA:  STKIP Taman Siswa Bima Wisuda 541 Lulusan, Kampus Siapkan Transformasi Menjadi Universitas

Menurut Yula, menjadi sarjana pendidikan berarti memiliki tanggung jawab untuk menjadi pribadi yang bermoral, profesional, sekaligus mampu mendidik.

Jika suatu hari kembali menjadi tenaga pendidik, ia ingin mengajarkan peserta didiknya untuk menjadi manusia yang utuh—memahami batasan, nilai moral, pendidikan, serta kemampuan mengendalikan diri.

Menurutnya, tantangan dunia pendidikan ke depan tidak hanya berkaitan dengan proses belajar-mengajar. Fasilitas, kredibilitas, serta dinamika politik dalam jajaran sekolah juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Karena itu, ia berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan dapat melakukan penyaringan sekaligus meningkatkan kesejahteraan guru.

 

Dari Tangga Menuju Gelar Sarjana

Empat tahun perjalanan Yula di perguruan tinggi ia gambarkan secara sederhana: “Lancar secara personal, terhambat faktor eksternal.” Ada keterbatasan fasilitas. Ada situasi keluarga yang tidak selalu mudah. Ada pula masa ketika dirinya sempat terpuruk di semester akhir. Namun semua itu tidak menghentikan langkahnya.

Kini, anak pertama dari dua bersaudara itu telah menyelesaikan pendidikan dan berdiri sebagai salah satu wisudawan terbaik.

Ia ingin mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan kuliah tidak menyia-nyiakan waktu yang dimiliki. “Ambil sebanyak mungkin pengalaman dan ilmu ketika berkuliah,” pesannya.

Dan ketika hari wisuda tiba, ada satu kalimat sederhana yang ingin ia persembahkan kepada ibunya: “Terima kasih telah berjuang selama 24 tahun. Sederhana namun indah. Ku mencintaimu.”

Bagi Yula, perjalanan menuju gelar sarjana mungkin tidak selalu berjalan mulus. Tetapi justru dari keterbatasan, dukungan orang-orang terdekat, dan keputusan untuk terus melangkah, ia akhirnya tiba di sebuah pintu baru.

Pintu yang mengantarkannya pada masa depan yang masih menjadi gray area—belum sepenuhnya jelas, tetapi kini ia memiliki bekal untuk menjalaninya. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait