Anak Petani Penerima KIP Kuliah dengan Segudang Prestasi, Innes Komariah Raih IPK 3,94: Wakafkan Hidup Menjadi Guru Matematika

Innes Komariah Raih foto bersama Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr H Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si dan dosen pembimbing di sela prosesi yudisium XXII STKIP Taman Siswa Bima.
Innes Komariah Raih foto bersama Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Dr H Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si dan dosen pembimbing di sela prosesi yudisium XXII STKIP Taman Siswa Bima.

JALAN menuju gelar sarjana bagi Innes Komariah tidak selalu mudah. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, perempuan asal Desa Tangga, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, itu harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, kegiatan pengabdian, penelitian, hingga pekerjaan sampingan.

Namun, keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti mengejar pendidikan. Innes justru mampu menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Matematika dengan IPK 3,94 dan meraih predikat Dengan Pujian.

Bacaan Lainnya

Di balik pencapaian tersebut, ada keluarga sederhana yang menjadi sumber kekuatannya. Innes merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putri pasangan Subhan dan Sarini yang bekerja sebagai petani. Ia menjadi salah satu mahasiswa penerima KIP Kuliah.

“Saya merupakan mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah. Hidup pas-pasan dari pekerjaan orang tua saya,” tutur Innes, Jumat (25/9/2026).

Kondisi tersebut membuat pendidikan memiliki arti khusus baginya. Dukungan orang tua menjadi salah satu alasan yang membuatnya terus bertahan ketika perjalanan kuliah mulai terasa berat.

“Dukungan dari orang tua saya sangatlah besar. Mereka sangat mendukung saya selama berkuliah,” katanya.

 

Dari Cita-Cita Menjadi Guru hingga Kampus Mengajar

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Innes sudah memiliki keinginan menjadi seorang guru. Dua mata pelajaran yang paling dekat dengan cita-citanya saat itu adalah Bahasa Inggris dan Matematika.

Seiring waktu, pilihan itu semakin mengerucut. Kini, Innes tetap ingin menjadi guru, tetapi memilih guru matematika sebagai jalan pengabdiannya.

Pilihan tersebut tidak hanya lahir dari ruang kuliah. Selama menjadi mahasiswa, ia mendapatkan pengalaman langsung berhadapan dengan dunia pendidikan melalui program Kampus Mengajar pada 2024.

Ines foto dengan murid dan guru saat menjadi fasilitator Program Kampus Mengajar.
Ines foto dengan murid dan guru saat menjadi fasilitator Program Kampus Mengajar.

Bagi Innes, Kampus Mengajar menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menempuh pendidikan tinggi.

Ia harus menjalani kegiatan tersebut sembari tetap menyelesaikan perkuliahan. Jarak antara kampus dan lokasi mengajar membuat aktivitas itu cukup melelahkan.

“Hal yang paling saya ingat adalah ketika saya harus mengikuti kegiatan Kampus Mengajar sembari berkuliah. Itu cukup melelahkan karena harus bolak-balik kampus dan jarak tempat saya mengajar waktu itu lumayan jauh dari kampus,” ujarnya.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi ruang belajar yang penting baginya. Di sana, ia tidak hanya belajar bagaimana mengajar. Ia juga belajar mengatur waktu, menghadapi berbagai karakter siswa, dan memahami bahwa menjadi guru membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi.

BACA JUGA:  Lewat Darul Huffaz, Mahasiswa STKIP TSB Didampingi Hafal 30 Juz Alquran

Kampus Mengajar bukan satu-satunya aktivitas yang dijalani Innes. Di kampus, ia aktif dalam HIMAPTIKA dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Ia juga terlibat dalam berbagai kepanitiaan, termasuk kepanitiaan voli se-Pulau Sumbawa dan menjadi sekretaris panitia PKKMB.

Di tengah kesibukan tersebut, ia juga aktif dalam penelitian bersama dosen selama sekitar satu tahun. Ia bahkan berhasil ikut menghasilkan publikasi jurnal yang terindeks SINTA 3, sebuah pencapaian yang menjadi salah satu hal paling dibanggakannya selama menjadi mahasiswa.

Selain kegiatan akademik dan organisasi, ia juga sempat mencari tambahan penghasilan dengan terlibat dalam kegiatan Pantarlih dan KPPS.

Banyaknya aktivitas membuat kemampuan mengatur waktu menjadi tantangan tersendiri.  “Tantangan yang paling berat menurut saya yaitu membagi waktu antara kegiatan dengan perkuliahan karena saya juga mengikuti kegiatan program MBKM,” katanya.

Kesibukan itu membuatnya harus belajar menentukan prioritas dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab secara bersamaan.

 

Pernah Berada di Fase Berat

Perjalanan tersebut bukan tanpa titik lelah. Innes mengaku pernah berada pada fase yang cukup berat ketika memasuki semester lima.

“Pada saat semester 5 saya berada di fase yang cukup melelahkan dan berat menurut saya,” ujarnya.

Namun, dukungan orang tua kembali menjadi penguat. Ia memilih terus melangkah dan menyelesaikan pendidikan yang telah dimulainya. Ia memiliki sepenggal petuah bagi mahasiswa lain yang masih menempuh kuliah.  “Seberat apa pun yang akan kamu hadapi, jangan pernah berpikir untuk berhenti.”

Baginya, kalimat itu bukan sekadar motivasi. Ia merupakan refleksi dari perjalanan yang telah dilaluinya sendiri.

Jauh sebelum menjadi mahasiswa, Innes sudah terbiasa aktif dalam berbagai kegiatan. Saat sekolah, ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional, meski belum berhasil masuk tiga besar. Ia juga dipercaya menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Bima pada 2021.

Ketika berada di perguruan tinggi, pengalaman tersebut berlanjut melalui organisasi, kegiatan MBKM, penelitian, hingga publikasi ilmiah.

Salah satu pencapaian yang paling ia banggakan adalah mengikuti Kampus Mengajar dan terlibat dalam publikasi jurnal SINTA 3.

Innes Komariah.
Innes Komariah.

Kampus Mengajar,  memberinya pengalaman langsung dalam dunia pendidikan sekaligus mengajarinya mengelola waktu dengan lebih baik. Sementara keterlibatannya dalam penelitian bersama dosen selama satu tahun memberikan pengalaman berbeda sebagai mahasiswa pendidikan.

Ketertarikannya terhadap pendidikan juga tercermin dalam penelitian skripsinya. Innes mengangkat penelitian berjudul “Pengaruh Media Pembelajaran Augmented Reality Terintegrasi PowerPoint Interaktif terhadap Pemahaman Konsep Kesebangunan Siswa Kelas VII SMPN 1 Monta.”

BACA JUGA:  Menolak Minder: Roni Muliadin, Lulusan PJKR STKIP Taman Siswa Bima yang Siap Wujudkan Mimpi Jadi Guru Profesional

Topik tersebut mempertemukan bidang yang dipelajarinya—pendidikan matematika—dengan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. Pengalaman melakukan penelitian membuatnya melihat bahwa pembelajaran matematika dapat dikembangkan dengan berbagai pendekatan, termasuk memanfaatkan teknologi agar konsep yang dianggap sulit dapat lebih mudah dipahami siswa.

Kini, setelah menyandang gelar sarjana, Innes ingin membawa pengalaman tersebut ke ruang kelas.

Setelah wisuda, Innes berencana mengabdi sebagai guru di sekolah sembari mencari peluang usaha lain. Ia berharap ilmu yang diperolehnya selama kuliah tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi bisa diteruskan kepada orang lain.

“Semoga ke depannya ilmu yang saya dapatkan selama berkuliah sampai mendapatkan gelar sarjana dapat saya salurkan dan tersampaikan dengan baik pada orang sekitar saya,” katanya.

Sebagai calon guru, ia menyadari dunia pendidikan tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal.  Menurutnya, perubahan kurikulum yang terus terjadi dan beragamnya karakter siswa menjadi tantangan yang harus dihadapi guru.

Sebagai guru yang masih berada di awal perjalanan, Innes memilih untuk terus belajar. “Sebagai guru yang masih baru berkecimpung dalam dunia mengajar, saya akan semaksimal mungkin mempelajari hal-hal yang ke depannya akan berubah,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah tidak hanya menyusun kebijakan pendidikan dari atas, tetapi mempertimbangkan kondisi nyata di sekolah. “Pemerintah harus sangat mempertimbangkan bagaimana kondisi real yang ada di sekolah sebelum mengambil keputusan apa pun. Karena tidak semua yang direncanakan dan semua sekolah mampu beradaptasi dengan cepat pada perubahan yang dilakukan,” katanya.

Di balik pencapaian akademik, ada dua orang yang selalu menjadi tempatnya kembali ketika menghadapi kesulitan: ayah dan ibunya. Ia menyebut orang tua sebagai sosok paling berjasa dalam perjalanan pendidikannya. Dan menjelang hari wisuda, ada kalimat yang ingin disampaikannya kepada mereka.

“Untuk orang tua saya, saya sangat, sangat, sangat berterima kasih karena sudah bersabar menghadapi saya dan terima kasih atas ceritanya (usahanya) yang telah dilakukan selama ini.”

Lalu, ada satu kalimat yang selama ini mungkin belum pernah ia sampaikan secara langsung.  “Saya tidak pernah mengatakan ini, tapi saya sangat bangga menjadi anak kalian.”

Kini, cita-cita masa kecilnya kembali menemukan jalannya. Bukan lagi sekadar keinginan menjadi guru, tetapi sebuah pilihan untuk membawa ilmu yang telah diperoleh kembali ke ruang pendidikan—menjadi guru matematika dan terus belajar bersama anak-anak yang kelak akan menjadi bagian dari masa depan daerah (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

 

Pos terkait