SEJAK KECIL, Indrawan Sutejo membayangkan dirinya mengenakan seragam tentara. Bagi anak kedua dari tiga bersaudara itu, menjadi tentara pernah menjadi cita-cita yang ingin diwujudkannya.
Namun, perjalanan hidup membawanya ke pilihan yang berbeda. Kini, lelaki yang akrab disapa Tejo itu justru memilih jalan pendidikan. Ia menyelesaikan studi pada Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi dengan IPK 3,92 dan terpilih sebagai wisudawan terbaik.
Pilihan menjadi pendidik terasa semakin dekat karena Indrawan tumbuh dalam keluarga yang hampir seluruhnya berlatar belakang pendidikan.
Ayahnya, almarhum Dalmadi, merupakan seorang pendidik bergelar S.Pd., M.Pd. Sementara ibunya, Amnah, juga seorang pendidik bergelar S.Pd.
Dari keluarga itulah Indrawan mendapatkan dukungan sekaligus teladan dalam menempuh pendidikan. “Keluarga besar saya sangat mendukung terhadap pendidikan yang saya ambil saat ini dan selalu memberikan motivasi,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Indrawan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
Cita-cita menjadi tentara yang pernah ia miliki sejak kecil akhirnya berubah. Setelah menjalani proses pendidikan dan berbagai pengalaman selama kuliah, Indrawan justru menemukan keinginan untuk menjadi seorang pendidik yang baik dan jujur.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Baginya, menjadi sarjana pendidikan bukan sekadar menyelesaikan perkuliahan dan memperoleh gelar. Ada tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan manfaat kepada orang lain melalui ilmu dan pengabdian.
“Bagi saya, seorang sarjana pendidikan bukan hanya seorang yang telah menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar, tetapi juga seorang yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi orang lain melalui ilmu dan pengabdian,” katanya.
Pengalaman KKN dan PPL menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan kuliahnya.
Di sana, ia belajar bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kerja sama, dukungan antarteman, dan pengalaman berhadapan langsung dengan lingkungan pendidikan memberikan pelajaran tersendiri baginya.
Kekompakan menjadi salah satu hal yang paling ia ingat selama menjadi mahasiswa. “Pengalaman berkesan saya pada waktu KKN dan PPL, karena di sana kita saling mendukung setiap kegiatan yang kita lakukan,” tuturnya.
Berjuang Menyelesaikan Artikel
Salah satu tantangan yang cukup berkesan bagi Indrawan datang ketika ia harus menyusun artikel ilmiah.
Pada awalnya, ia mengaku belum memahami bagaimana menyusun artikel dengan baik. Namun, bimbingan dari para dosen membuatnya perlahan memahami proses tersebut.
Ia terus melakukan perbaikan hingga akhirnya artikel yang dikerjakannya dapat diselesaikan tepat waktu.
Pengalaman itu justru menjadi salah satu pencapaian yang paling ia banggakan selama menjadi mahasiswa. “Artikel, karena itu merupakan suatu pencapaian yang paling berkesan bagi saya dan saya banggakan,” katanya.
Proses tersebut juga mengajarkannya bahwa kesulitan dalam pendidikan tidak selalu harus dihadapi sendirian. Dukungan dosen dan teman-teman menjadi bagian penting yang membuatnya tetap berjalan.
Berbeda dengan sebagian mahasiswa yang pernah berada pada titik ingin menyerah, Indrawan mengatakan dirinya tidak pernah sampai pada kondisi tersebut.
Teman-temannya selalu memberikan dukungan dan membantu satu sama lain. Bagi Indrawan, kebersamaan itulah yang membuat perjalanan kuliahnya terasa lebih ringan.
Dari LKBB hingga Wisudawan Terbaik
Sebelum memasuki perguruan tinggi, Indrawan sudah aktif dalam berbagai kegiatan.
Saat sekolah, ia mengikuti LKBB, Paskibra, lomba pidato bahasa Inggris, hingga menjadi siswa teladan ketika lulus SMA. Ia juga pernah aktif dalam Pramuka, OSIS, dan Dewan Kerja Ranting (DKR).
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal yang ikut membentuk dirinya hingga berada di perguruan tinggi.
Di kampus, ia kemudian memperkuat pengalaman akademiknya melalui kegiatan KKN, PPL, dan penyusunan artikel ilmiah. Semua proses itu akhirnya membawanya pada pencapaian yang tidak pernah ia anggap sekadar angka.
Dengan IPK 3,92, Indrawan terpilih sebagai salah satu wisudawan terbaik. Bagi dirinya, perjalanan kuliah yang ia gambarkan dengan satu kata—mengesankan—telah memberikan banyak pengalaman dan pelajaran.
Kini, setelah menyandang gelar sarjana, Indrawan ingin menjadi seorang pendidik. Ia ingin mengamalkan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan serta mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, salah satu tantangan setelah menjadi sarjana justru adalah bagaimana menerapkan ilmu yang telah dipelajari agar benar-benar memberikan manfaat.
Karena itu, ia ingin menjadikan ilmu yang diperoleh selama kuliah sebagai bekal untuk menjalankan tugas sebagai pendidik.
Ia juga berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan terus meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan, terutama di daerah yang masih memiliki keterbatasan fasilitas dan sumber daya.
Gelar untuk Ayah yang Telah Tiada
Di balik pencapaian Indrawan, ada sosok yang tidak mungkin hadir secara fisik pada hari wisudanya: sang ayah, almarhum Dalmadi.
Ayahnya pernah menjadi bagian dari dunia pendidikan dan memberikan teladan bagi perjalanan hidupnya.
Kini, ketika Indrawan berdiri sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,92, gelar itu menjadi persembahan untuk sang ayah dan ibunya. Ada doa dan pengorbanan orang tua yang mengiringi setiap langkahnya.
“Di balik setiap langkah yang saya tempuh ada doa dan pengorbanan yang tidak pernah berhenti. Terima kasih telah menjadi alasan saya untuk terus berjuang, bahkan ketika saya merasa lelah,” ujarnya.
Kemudian ia menegaskan kepada siapa gelar tersebut dipersembahkan. “Gelar ini saya persembahkan untuk almarhum Bapak saya dan ibu tercinta.”
Kini, cita-cita masa kecilnya untuk menjadi tentara memang telah berubah. Tetapi semangat untuk mengabdi tetap ia bawa dalam bentuk yang berbeda.
Ia memilih menjadi pendidik. Bagi Indrawan, menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan pelajaran. Lebih dari itu, menjadi pendidik adalah tentang mengamalkan ilmu, memberikan manfaat, dan menjadi bagian dari proses membangun manusia.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan, ia berpesan agar tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti. “Jangan pernah menyerah hanya karena perjalanan itu terasa sulit. Tetaplah percaya pada kemampuan diri sendiri.”
Pesan itu seperti menjadi gambaran perjalanan Indrawan sendiri: dari seorang anak yang pernah bercita-cita menjadi tentara, tumbuh dalam keluarga pendidik, melewati KKN, PPL, tantangan menyusun artikel, hingga akhirnya berdiri sebagai wisudawan terbaik.
Dan pada hari wisuda itu, satu gelar tidak hanya menjadi tanda keberhasilannya menyelesaikan pendidikan. Gelar itu juga menjadi bentuk penghormatan kepada seorang ayah yang telah lebih dahulu pergi, tetapi jejak pengabdiannya di dunia pendidikan terus dibawa oleh anaknya. (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News











