NUR ANITA, atau yang akrab disapa Itta, tidak ingin memaknai gelar sarjana pendidikan sebagai tiket yang hanya mengantarkannya menjadi seorang guru.
Bagi perempuan asal Desa Oi Maci, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, pendidikan justru membuka kemungkinan yang jauh lebih luas. Ia ingin terus belajar, mencoba berbagai pengalaman, mengembangkan kemampuan, bahkan suatu hari melanjutkan pendidikan ke luar negeri untuk melihat dunia yang selama ini belum pernah dijelajahinya.
Pandangan itu sejalan dengan perjalanan akademiknya. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris tersebut berhasil meraih IPK 3,93 dan terpilih sebagai wisudawan terbaik nomor satu di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, di antara 18 wisudawan lainnya.
Pencapaian itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pendidikan Itta. Namun, di balik predikat tersebut, ada perjalanan yang ia gambarkan sebagai sesuatu yang “naik turun, tapi masih bisa stabil pada akhirnya.”
Itta merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana berlatar belakang petani. Ayahnya, Abakar, bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Amnah, telah meninggal dunia.
Meski hidup dalam kondisi sederhana dan tidak berlebihan, Itta mengatakan keluarganya selalu memberikan dukungan terbaik untuk pendidikannya.
“Orang tua tentunya memberikan dukungan yang luar biasa untuk saya, apalagi tentang pendidikan. Mereka menyiapkan semua yang terbaik,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Dukungan keluarga itulah yang membuatnya mampu menjalani pendidikan hingga perguruan tinggi.
Sejak kecil, Itta sebenarnya memiliki cita-cita menjadi pramugari. Cita-cita itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi perjalanan pendidikan membuat pandangannya terhadap masa depan semakin luas.
Kini, ia ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Keinginannya sederhana: melihat dunia yang belum pernah ia lihat dan merasakan pengalaman belajar di lingkungan yang berbeda.
“Sekarang saya ingin bisa melanjutkan studi saya ke luar negeri. Melihat dunia luar yang belum pernah saya lihat,” katanya.
Belajar Bersama, Bukan Bersaing
Salah satu hal yang paling berkesan bagi Itta selama kuliah justru bukan semata-mata pencapaian akademik. Ia mengingat teman-teman sekelasnya sebagai bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Di tengah tuntutan perkuliahan, ia merasakan suasana belajar yang tidak dibangun melalui persaingan ketat. Mereka saling membantu, saling mengajarkan, dan saling mengingatkan ketika tugas mulai menumpuk.
“Tak ada persaingan ketat, belajar bersama, saling mengajarkan. Bahkan mereka terasa lebih seperti keluarga dibanding hanya disebut teman kelas,” tuturnya.
Kenangan itu menjadi salah satu bagian yang tidak ingin ia lupakan dari masa kuliah. Meski demikian, bukan berarti perjalanan akademiknya selalu ringan.
Semester lima menjadi salah satu fase yang cukup melelahkan. Tugas datang hampir setiap hari dan tidak jarang menumpuk. Namun, Itta dan teman-temannya memiliki cara sendiri untuk menyelesaikannya. Mereka saling mengingatkan, meski terkadang harus saling “ngomel” terlebih dahulu agar tugas segera dikerjakan.
“Lucunya tetap selesai tepat waktu juga,” katanya sambil tertawa.
Bagi Itta, pengalaman tersebut justru mengajarkannya tentang bagaimana bertahan dalam tekanan akademik tanpa harus kehilangan kebersamaan.
Dari Mentor hingga Jurnal Sinta 3
Di luar kegiatan perkuliahan, Itta aktif mengembangkan diri melalui berbagai aktivitas di lingkungan kampus.
Ia pernah dipercaya menjadi Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (HIMABI) pada 2025.
Ia juga terlibat dalam kegiatan English Super Camp. Pada 2024, ia menjadi mentor, kemudian dipercaya menjadi Koordinator Mentor pada kegiatan yang sama pada 2025.
Selain itu, Itta pernah menjadi mentor dalam kegiatan English Language Clinic (ELC).
Berbagai aktivitas tersebut membuatnya tidak hanya belajar di dalam ruang kelas, tetapi juga mengasah kemampuan berorganisasi, berkomunikasi, dan mendampingi mahasiswa lainnya.
Pencapaian akademiknya juga tidak berhenti pada IPK. Itta berhasil mempublikasikan artikel ilmiah terindeks Sinta 3 di jurnal ELT-Lectura dengan judul “English Students’ Dependency on ChatGPT in Academic Translation: A Qualitative Case Study.”
Topik tersebut terasa relevan dengan perkembangan teknologi yang kini semakin dekat dengan dunia pendidikan.
Menurut Itta, perkembangan zaman juga menjadi tantangan bagi guru dan tenaga pendidik. Kemampuan mengajar tidak bisa berhenti pada apa yang sudah dikuasai saat ini.
Jika keterampilan tidak terus diperbarui, pendidik akan semakin sulit mengikuti perubahan zaman. Karena itu, ia memilih untuk terus belajar dan mengevaluasi cara mengajarnya.
“Tentu saja terus belajar, evaluasi setiap cara diri mengajar agar bisa survive di dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan melakukan pemantauan secara berkala terhadap kualitas pembelajaran.
Menurutnya, evaluasi bukan hanya untuk menilai, tetapi juga memastikan guru mendapatkan arahan dan pengembangan ketika diperlukan.
Sarjana Pendidikan dan Jalan yang Lebih Luas
Bagi Itta, menjadi sarjana pendidikan tidak berarti seseorang harus membatasi masa depannya hanya sebagai guru. Justru, gelar tersebut seharusnya menjadi pijakan untuk berani mencari pengalaman dan mengembangkan kemampuan lebih jauh.
“Menjadi seorang sarjana pendidikan bukan berarti kamu hanya bisa berpaku suatu saat nanti hanya bisa menjadi guru. Itu salah. Kamu harus berani bergerak dan terus mencari sampai mana batas mampumu untuk mengejar yang lebih tinggi,” katanya.
Setelah wisuda, Itta berencana mencoba mengikuti program MagangHub Batch 3. Baginya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Dalam jangka lebih panjang, ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan jika ada kesempatan, ia ingin merasakan pengalaman bekerja dengan penghasilan yang baik.
Di balik gaya bicaranya yang ringan, Itta menyimpan pesan yang cukup serius tentang perjalanan pendidikan: gelar sarjana bukan garis akhir. Ia ingin terus bergerak.
Dari Desa Oi Maci, Sape, ia kini telah sampai pada titik sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,93. Namun, baginya, pencapaian itu justru menjadi awal dari perjalanan berikutnya. Ada studi lanjutan yang ingin dikejar. Ada dunia yang ingin dilihat. Ada kemampuan yang masih ingin dikembangkan.
Dan ada satu hal yang paling ingin ia buktikan melalui semua perjalanan tersebut: bahwa dirinya mampu. Hal itu pula yang membuat pesannya kepada kedua orang tuanya terasa sangat personal.
“Terima kasih sudah mau bertahan, terima kasih untuk tidak goyah. Terima kasih untuk tidak mempercayai kalimat jahat orang lain tentang saya.”
“Saya ada di sini sekarang, menjadi salah satu yang terbaik dan membuktikan bahwa saya tidak buruk seperti yang orang lain katakan pada kalian.”
Kini, gelar wisudawan terbaik itu menjadi bagian dari jawabannya. Bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri—bahwa perjalanan yang naik turun tetap bisa membawa seseorang sampai pada tempat yang ia perjuangkan. (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News












