Tak Punya Laptop dan Bolak-Balik Kampus dengan Bus, Faiz Tetap Bertahan hingga Jadi Salah Satu Wisudawan Terbaik Prodi PTI

Wisudawan terbaik Prodi PTI Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima, Muhammad Faiz. Kolase Berita11.com.
Wisudawan terbaik Prodi PTI Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima, Muhammad Faiz. Kolase Berita11.com.

SETIAP PAGI, Muhammad Faiz berangkat dari Desa Nggembe, Kecamatan Bolo, menuju kampus dengan menaiki bus. Perjalanan dari rumah menuju kampus dan kembali lagi ke rumah menjadi rutinitas yang harus ia jalani selama menempuh pendidikan di kampus STKIP Taman Siswa Bima.

Bagi sebagian mahasiswa, perjalanan pulang-pergi mungkin hanya bagian biasa dari aktivitas kuliah. Namun bagi Faiz, perjalanan itu adalah bagian dari perjuangan panjang untuk meraih gelar sarjana.

Bacaan Lainnya

Sesampainya di kampus, perjuangannya belum selesai. Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, laptop menjadi salah satu perangkat penting untuk mengerjakan tugas dan menyelesaikan berbagai pekerjaan akademik. Namun, Faiz tidak memiliki laptop sendiri. Ia pun harus meminjam laptop milik teman.

Keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti. Dengan perangkat pinjaman tersebut, ia tetap mengerjakan tugas, mengikuti perkuliahan, menyelesaikan penelitian hingga akhirnya menuntaskan skripsi.

Perjuangan yang dijalaninya selama kuliah akhirnya berbuah hasil. Faiz berhasil menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,89 dan meraih predikat wisudawan dengan pujian. Bahkan, ia menjadi salah satu mahasiswa terbaik di antara sekitar 500 peserta wisuda. Jika tak ada aral melintang ia akan dikukuhkan sebagai wisudawan dalam prosesi Rapat Senat Terbuka Wisuda Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima di Auditorium Sudirman kampus STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).

“Bukan perjalanan tercepat, tapi perjalanan yang mengajarkanku arti bertahan,” kata Faiz menggambarkan perjalanan kuliahnya.

Faiz merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia menempuh pendidikan di SMPN 3 Bolo dan kemudian melanjutkan ke MAN 1 Bima.

Kondisi keluarganya yang telah berpisah membuat perjalanan pendidikannya tidak selalu berjalan mudah. Namun, ia mendapatkan dukungan penuh dari ibu dan nenek yang terus mendorongnya menyelesaikan pendidikan.

BACA JUGA:  Rohimah Fadla, Calon Wisudawati Terbaik STKIP Taman Siswa Bima: Matematika dan Pelajaran Berharga dari Kampus Mengajar

Di balik perjalanan panjang itu, ada pula sosok yang memiliki jasa besar dalam pendidikan Faiz, yakni Hadijah, kakak dari ibunya. Bagi Faiz sosok Hadijah sebagai orang yang sangat berjasa karena membiayai pendidikannya sejak sekolah dasar hingga menyelesaikan pendidikan sarjana.

Dukungan tersebut menjadi salah satu alasan Faiz terus menjaga kesempatan pendidikan yang telah diperolehnya.

Ia mengaku pernah berada pada titik ingin menyerah, terutama pada awal masa perkuliahan, saat semester pertama dan kedua. Namun, kesempatan memperoleh KIP Kuliah dari pemerintah membuatnya kembali memiliki alasan untuk bertahan. “Yang membuat saya bertahan yaitu mendapatkan KIP Kuliah dari pemerintah,” ujarnya.

Sejak kecil, Faiz memang memiliki cita-cita sederhana tetapi kuat: menjadi orang sukses dan membanggakan orang tua.

Cita-cita itu tidak berubah ketika ia memasuki perguruan tinggi. Setelah memperoleh gelar sarjana, ia berharap kehidupannya dapat berubah dan kondisi keluarganya menjadi lebih baik.

Perjalanan menuju wisuda juga tidak hanya diisi dengan aktivitas perkuliahan. Faiz aktif dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (HMPS PTI). Saat SMA, ia juga pernah mengikuti organisasi OSIS.

Ia mengikuti program Kampus Mengajar Angkatan 7 yang ditempatkan di SDN Nggembe. Program tersebut menjadi salah satu pengalaman penting selama menjadi mahasiswa karena memberinya kesempatan terlibat langsung dalam dunia pendidikan.

Selain itu, Faiz pernah mengikuti penelitian dosen di SDN Inpres Pali dan berhasil menerbitkan jurnal di Jurnal Pendidikan Dasar (Jurnal Pendas).

Pengalaman tersebut kemudian berpadu dengan penelitian yang ia lakukan dalam skripsinya. Faiz mengangkat judul “Pengembangan Media Gamifikasi Matching Card Berbasis Interacty dan LearningApps untuk Meningkatkan Kosakata Anak Tunagrahita di SLB Baiturrahman Bima.”

Muhammad Faiz saat melaksanakan tugas dalam program Kampus Merdeka.
Muhammad Faiz saat melaksanakan tugas dalam program Kampus Merdeka.

Skripsi tersebut menunjukkan ketertarikannya untuk memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran, termasuk bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

BACA JUGA:  Salman Al Farizy: Dari Penjual Jasuke hingga Calon Wisudawan Terbaik dengan IPK 3,80

Ketertarikannya pada media pembelajaran juga berkaitan dengan pandangannya mengenai tantangan dunia pendidikan ke depan. Menurut Faiz, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi guru.

Karena itu, ia ingin menjawab perkembangan tersebut dengan menghadirkan media pembelajaran yang menarik bagi siswa. “Saya ingin menciptakan media pembelajaran yang menarik bagi siswa,” katanya.

Bagi Faiz, menjadi sarjana pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Ia melihat sarjana pendidikan memiliki posisi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.

“Menjadi sarjana pendidikan adalah seseorang yang sangat luar biasa dan berperan penting untuk membangun SDM Indonesia saat ini,” ujarnya.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,89 dan predikat pujian, Faiz ingin bekerja dan membangun kehidupan yang lebih baik. Ia berharap gelar sarjana yang diperolehnya dapat menjadi jalan untuk mengubah nasib.

Di balik pencapaian itu, ada perjalanan yang panjang: naik bus dari rumah menuju kampus, pulang dengan bus yang sama, mengerjakan tugas menggunakan laptop pinjaman, hingga melewati masa-masa ketika ia hampir menyerah.

Semua pengalaman tersebut akhirnya membawanya ke titik yang dulu ia perjuangkan—menjadi salah satu mahasiswa terbaik di antara ratusan peserta wisuda.

Bagi Faiz, pencapaian itu bukan sekadar tentang IPK 3,89 atau predikat pujian. Ada ketekunan dan dukungan orang-orang yang membuatnya mampu bertahan.

Karena itu, ia berpesan kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan agar tidak melewatkan berbagai kesempatan yang datang selama berada di kampus.

“Pesan saya untuk mahasiswa yang masih berjuang, sering-sering mengikuti program kampus maupun program pemerintah,” katanya.

Dan untuk orang-orang yang telah mendukungnya sejak awal, Faiz hanya memiliki satu kalimat sederhana. “Terima kasih buat orang tua saya yang bertahan sejauh ini.” (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait