DULU, Muh Ma’ruf membayangkan masa depannya di lapangan hijau. Sejak kecil, menjadi pemain bola adalah cita-cita yang ingin diwujudkannya. Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah yang berbeda.
Lapangan sepak bola yang dulu menjadi tempat ia mengejar mimpi perlahan berganti dengan ruang kelas, buku, tugas kuliah, hingga pengalaman mengajar di sekolah. Ma’ruf kini justru memilih jalan sebagai pendidik.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah itu berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan IPK 3,78 dan terpilih sebagai salah satu wisudawan terbaik. Ia menjadi satu dari tiga mahasiswa terbaik di Prodi Pendidikan Sejarah. Jika tak ada aral melintang, ia dan ratusan mahasiswa yang berhasil menyelesaikan tahapan kuliah, akan dikukuhkan sebagai wisudawan pada proses Rapat Senat Terbuka Wisuda S1 Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima di Auditorium Sudirman, kampus STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).
Bagi Ma’ruf, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Terlebih, perjalanan menuju titik itu tidak selalu berjalan mudah.
Ma’ruf merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Ia berasal dari Desa Tenga, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di daerah asalnya, yakni SMPN 1 Woha dan SMAN 1 Woha.
Ia tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Ayahnya, Khairudin Husein, bekerja sebagai petani, sementara ibunya, Emiyati, menjadi petani sekaligus pedagang.
Meski hidup dalam keterbatasan, kedua orang tuanya selalu memberikan dukungan besar terhadap pendidikan anaknya.
Bagi Ma’ruf, orang tua bukan sekadar pemberi dukungan, tetapi juga menjadi tujuan utama yang membuatnya berusaha menyelesaikan kuliah tepat waktu.
“Mereka dari awal menjadi tujuan saya untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu,” ujarnya, Jumat (25/9/2026).
Perjalanan kuliahnya juga tidak selalu mulus. Salah satu fase paling menantang datang ketika ia harus menyelesaikan skripsi. Ia mengangkat penelitian berjudul “Analisis Penerapan Model (PBL) dalam Pembelajaran IPS pada Siswa Kelas VIII SMPN 1 Woha.”
Proses menyusun skripsi membuatnya harus berkali-kali melakukan perbaikan berdasarkan hasil bimbingan dengan dosen pembimbing. Bagi Ma’ruf, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan akademik yang harus dijalani dengan sabar.
Ia mengaku pernah berada pada titik ingin menyerah dan merasa tidak mampu menyelesaikan kuliah. Namun, setiap kali berada dalam kondisi tersebut, ia kembali mengingat kedua orang tuanya.
Dukungan dan semangat dari keluarga membuatnya memilih untuk terus berjalan hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan. “Pernah ingin menyerah. Kedua orang tua yang membuat saya bertahan,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas selama menjadi mahasiswa adalah ketika ia mengikuti program Kampus Mengajar Angkatan 7 pada 2024.
Program tersebut tidak hanya menjadi pengalaman organisasi maupun kegiatan di luar kelas, tetapi juga mempertemukannya secara langsung dengan dunia pendidikan dan siswa.
Pengalaman itu semakin memperkuat pilihannya untuk menjadi guru.
Sebelum kuliah, Ma’ruf memang aktif dalam kegiatan olahraga. Ia pernah mengikuti turnamen futsal antarsekolah. Namun, cita-cita sebagai pemain bola akhirnya berubah.
Kini, ia ingin menjadi guru yang mengabdi dan ikut mencerdaskan anak bangsa. Perubahan cita-cita tersebut bukan berarti meninggalkan semangat masa kecilnya. Justru, Ma’ruf menemukan bentuk pengabdian lain yang menurutnya lebih dekat dengan apa yang ingin ia lakukan untuk orang lain.
Menjadi sarjana pendidikan, bagi Ma’ruf, adalah sebuah kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Ia sadar, gelar tersebut kelak membawanya pada tanggung jawab sebagai guru. Seorang guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi contoh atau role model bagi siswa.
“Bagi saya, menjadi sarjana pendidikan adalah suatu kebanggaan sekaligus tanggung jawab karena nanti akan menjadi guru dan menjadi role model,” ujarnya.
Selama kuliah, Ma’ruf juga aktif dalam organisasi internal kampus melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS). Aktivitas tersebut berjalan berdampingan dengan perkuliahan dan kegiatan Kampus Mengajar.
Namun, di antara seluruh pengalaman tersebut, momen yang paling sulit dilupakan justru datang menjelang wisuda. Ketika namanya terpilih sebagai salah satu dari tiga wisudawan terbaik di Prodi Pendidikan Sejarah, Ma’ruf merasakan kebanggaan yang berbeda.
Pencapaian itu menjadi bukti dari perjalanan yang selama ini ia jalani bersama dukungan keluarganya.
Dari keluarga sederhana di Desa Tenga, Ma’ruf berhasil menyelesaikan pendidikan dan berdiri sebagai salah satu mahasiswa terbaik di program studinya.
Kini, setelah menyandang gelar sarjana, ia belum ingin berhenti belajar. Rencana berikutnya adalah melanjutkan pendidikan untuk mempersiapkan diri menjadi guru yang benar-benar siap menjalankan tugas dan memiliki kompetensi yang layak sebagai tenaga pendidik.
Menurutnya, guru ke depan tidak cukup hanya memiliki ijazah. Kompetensi juga harus terus diperbaiki agar mampu menjawab berbagai persoalan dalam dunia pendidikan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah kejelasan mengenai status guru.
Karena itu, ia berharap pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan memberikan perhatian terhadap kejelasan status guru ke depan.
Di sisi lain, Ma’ruf memilih mempersiapkan dirinya dari sisi kompetensi. “Saya ingin menaikkan dan memperbaiki kompetensi sebagai guru dan tenaga pendidik,” katanya.
Harapan terbesar Ma’ruf setelah wisuda sebenarnya sederhana: membahagiakan keluarganya, terutama kedua orang tuanya, sekaligus menjadi guru yang mampu memberikan contoh baik kepada para siswa.
Cita-cita itu kini menggantikan mimpi masa kecilnya menjadi pemain bola. Jika dahulu ia ingin dikenal melalui permainan di lapangan hijau, kini ia ingin mengambil peran melalui ruang kelas—membimbing siswa, memberikan contoh, dan ikut mencerdaskan generasi berikutnya.
Perjalanan kuliahnya ia gambarkan hanya dengan satu kata: kebanggaan.
Namun, di balik satu kata tersebut ada proses panjang yang pernah membuatnya ingin menyerah, ada skripsi yang harus berkali-kali diperbaiki, ada dukungan keluarga, serta pengalaman Kampus Mengajar yang ikut mengubah cara pandangnya tentang profesi guru.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan, Ma’ruf menyampaikan pesan sederhana. “Kalau saya bisa, kalian juga pasti bisa,” katanya.
Dan untuk kedua orang tuanya yang selama ini menjadi sumber semangat sekaligus tujuan perjuangannya, Ma’ruf hanya ingin menyampaikan satu hal. Banyak-banyak terima kasih.
Sebab, sebelum namanya disebut sebagai salah satu wisudawan terbaik, ada keluarga yang terlebih dahulu percaya bahwa ia mampu menyelesaikan perjalanan itu sampai akhir. (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News












