MENJADI guru pernah menjadi cita-cita Fitri Awalia Putri ketika masih kecil. Namun, setelah empat tahun menjalani pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, pandangannya tentang masa depan berubah. Bukan karena ia kehilangan kecintaan terhadap dunia pendidikan, tetapi karena pengalaman selama kuliah membuatnya melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas.
Kini, perempuan asal Desa Simpasai, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, itu bersiap mengikuti prosesi wisuda XXII STKIP Taman Siswa Bima sebagai salah satu wisudawan terbaik dengan IPK 3,90.
Jika tak ada aral melintang prosesi wisuda XXII STKIP Taman Siswa Bima akan digelar di Auditorium Sudirman, Sabtu (26/9/2026).
Bagi Fitri—begitu ia akrab disapa—pencapaian tersebut bukan sesuatu yang diraih dengan tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik. Justru, sejak awal kuliah, keluarganya memberikan ruang untuk menentukan pilihan dan menjalani proses dengan kemauan sendiri.
Fitri merupakan anak tunggal dari pasangan Anwar, S.Pd., seorang guru, dan Siti Salmah, ibu rumah tangga. Ia tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan.
Menurut Fitri, orang tuanya selalu berusaha memberikan pendidikan terbaik. Namun, mereka tidak pernah memaksanya untuk menjadi sempurna atau membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.
“Saya selalu diberi tahu untuk jangan pernah memikirkan biaya untuk pendidikan. Bukan karena keluarga saya kaya atau punya banyak harta, melainkan mereka akan selalu mengusahakannya,” tutur Fitri Jumat (25/9/2026).
Ada satu pesan dari ibunya yang hingga kini terus ia pegang. “Keinginan dan kemauan itu bisa hadir dari dalam diri sendiri. Jika tidak, mau dipaksa sekeras apa pun tidak akan maksimal,” katanya, mengutip pesan sang ibu.
Prinsip tersebut justru membuat Fitri belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri. Selama empat tahun kuliah, ia berusaha mempertahankan performa akademiknya sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan. Hasilnya, ia mampu menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,90 dan menjadi salah satu wisudawan terbaik.
Pengalaman yang Membawanya ke Malaysia
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Fitri selama menjadi mahasiswa adalah kesempatan mengikuti program credit transfer ke Malaysia yang dibiayai penuh oleh kampus. Kesempatan itu tidak hanya menjadi pengalaman akademik, tetapi juga menjadi ujian bagi dirinya untuk hidup di lingkungan baru.
Berada di negara lain selama satu semester membuat Fitri harus belajar mandiri. Ia tidak memiliki orang dekat yang berada di sekitarnya seperti ketika berada di tanah kelahiran.
“Tantangan paling berat menurut saya adalah berkuliah di Malaysia satu semester. Itu mengajarkan saya bagaimana untuk bertahan hidup di lingkungan baru tanpa satu orang dekat pun yang ada di sekitar dan harus menyelesaikan itu semua dengan baik,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Fitri mengenal sisi lain dari dirinya. Ia belajar beradaptasi, menyelesaikan persoalan sendiri, sekaligus bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.
Selain Malaysia, perjalanan kemahasiswaannya juga diwarnai pengalaman mengikuti Kampus Mengajar Batch 7 di SDN Simpasai, KKN-PPL di Desa Wawo Kombo, serta komunitas belajar bahasa Inggris bernama Gembels.
Di Kampus Mengajar, Fitri bersama tim menjadi mitra guru di sekolah. Pengalaman tersebut mempertemukannya secara langsung dengan dunia pendidikan yang selama ini ia pelajari secara akademik.
Di lingkungan kampus, ia juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (HIMABI) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Jauh sebelum itu, ketika masih sekolah, ia aktif dalam OSIS, Pramuka, dan Paskibra.
Bagi Fitri, salah satu pencapaian yang paling ia banggakan bukan hanya mendapatkan IPK tinggi. Ia justru merasa bangga karena mampu mempertahankan performanya secara konsisten.
“Mempertahankan prestasi, karena tidak semua orang bisa konsisten pada komitmen atau pencapaian yang didapat,” katanya.
Konsistensi itu pula yang menjadi bagian dari perjalanan akademiknya hingga berhasil meraih IPK 3,90.
Prestasinya sebenarnya sudah terlihat sejak bangku sekolah. Ia pernah menjadi salah satu dari dua perwakilan Kecamatan Monta dalam Perkemahan Wira Karya Daerah di Lombok dan berhasil masuk tiga besar.
Ketika memasuki perguruan tinggi, ia tidak berhenti mengembangkan diri. Selain menjaga prestasi akademik, ia mengambil kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional. Baginya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh dari ruang kelas.
Menjadi guru pernah menjadi cita-cita sederhana Fitri ketika masih kecil. Namun, setelah menyaksikan berbagai persoalan yang dihadapi tenaga pendidik, pandangannya tentang profesi tersebut menjadi lebih kompleks.
Ia menilai persoalan kesejahteraan guru, kejelasan aturan, serta perubahan kebijakan pendidikan menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian. Karena itu, setelah lulus, ia tidak secara langsung menempatkan profesi guru sebagai satu-satunya pilihan.
Ia ingin mencari pekerjaan di bidang yang memungkinkan dirinya banyak berinteraksi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Bekerja di bank, hotel, maupun perkantoran menjadi beberapa pilihan yang ingin dicobanya. Meski demikian, pintu untuk kembali ke dunia akademik tetap terbuka.
“Terakhir opsi saya ingin mengabdi, namun menjadi dosen,” ujarnya.
Bagi Fitri, perubahan cita-cita tersebut bukan berarti meninggalkan ilmu yang telah dipelajari. Ia justru ingin menggunakan pengalaman dan keterampilannya untuk menemukan ruang pengabdian yang sesuai dengan dirinya.
Baginya, gelar sarjana pendidikan bukan sekadar gelar akademik. Ada tanggung jawab yang melekat setelah seseorang menyelesaikan pendidikan tinggi, yakni bagaimana ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama menjadi mahasiswa dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
“Menjadi seorang sarjana artinya mengemban sebuah tanggung jawab, bagaimana ilmu dan keterampilan yang didapat saat menjadi mahasiswa bisa diterapkan di kehidupan nyata setelah ini,” katanya.
Ia juga ingin setelah wisuda segera mencari pekerjaan dan tidak berdiam diri menunggu kesempatan datang.
“Find a job. Tentu setelah ini tidak bisa hanya berdiam diri, cari banyak peluang dan coba segala kesempatan yang ada,” ujarnya.
Harapan besarnya adalah mendapatkan pekerjaan yang layak, kemudian mengumpulkan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika memungkinkan, ia ingin melanjutkan studi hingga ke luar negeri.
Catatan untuk Pendidikan di Daerah
Sebagai lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Fitri memiliki pandangan tersendiri terhadap tantangan pendidikan dan profesi guru. Menurutnya, persoalan kesejahteraan guru dan perubahan sistem pendidikan perlu menjadi perhatian. Ia berharap kebijakan pendidikan dapat disusun secara lebih jelas dan ditinjau berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
“Karena selain daripada mengajar, kami calon guru tidak bisa mengubah sistem, kami hanya bisa menerimanya saja,” katanya.
Fitri juga berharap pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan lebih memperhatikan fasilitas pendidikan serta memperbanyak kegiatan yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa dan mahasiswa.
Menurutnya, pembelajaran tidak cukup hanya melalui materi di dalam kelas. Ia mendorong lebih banyak kegiatan pengabdian, praktikum, dan pengalaman lapangan agar peserta didik memiliki bekal ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan setelah pendidikan.

Di balik pencapaiannya, ada sosok yang memiliki tempat paling penting dalam perjalanan pendidikannya: sang ibu, Siti Salmah. Bagi Fitri, ibunya bukan sekadar orang tua.
“Absolutely MAMA!” katanya ketika ditanya siapa orang yang paling berjasa dalam perjalanan pendidikannya.
Sejak proses mendaftar kuliah hingga menyelesaikan pendidikan, sang ibu selalu berusaha mencari jalan ketika ia menghadapi persoalan. “Mama bukan hanya ibu, dia segalanya. Dia bisa menjadi teman, saudara, sekaligus ibu pada waktu yang dibutuhkan,” ujarnya.
Karena itu, keberhasilan meraih predikat wisudawan terbaik tidak hanya dipandangnya sebagai pencapaian pribadi. Ada pengorbanan orang tua yang menurutnya ikut berada di balik setiap pencapaian tersebut.
Bagi Fitri, empat tahun perjalanan kuliah itu mungkin bisa dirangkum dalam satu kata: unforgettable. Namun, wisuda bukan akhir perjalanan. Setelah toga dilepas, ia akan kembali menghadapi dunia yang lebih luas—mencari pekerjaan, mencoba berbagai kesempatan, dan perlahan menyiapkan langkah menuju pendidikan yang lebih tinggi.
Ia pun meninggalkan pesan bagi mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan. “Jangan fokus pada pencapaian orang lain sehingga melupakan diri sendiri dan jangan pernah membandingkan diri dengan orang. Titik awal orang berbeda-beda. Kita tidak tahu apa yang telah orang itu lewati sehingga bisa ada di titik keberhasilannya.”
“Jangan pernah takut untuk mencoba. Jika gagal itu wajar karena itu adalah proses. Cobalah terus-menerus sampai kegagalan tidak sanggup lagi mengejarmu.” (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News












