Sempat Ikut Arus hingga Menemukan Arah, Sulfani Lulus dengan IPK 3,91

Sulfani, wisudawati terbaik Prodi PTI Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima.
Sulfani, wisudawati terbaik Prodi PTI Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima.

ADA MASA ketika Sulfani benar-benar tidak tahu ingin menjadi apa. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, perempuan asal Desa Samili, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, itu begitu yakin ingin menjadi guru. Bahkan, ia secara khusus bercita-cita menjadi guru matematika karena sejak kecil menyukai pelajaran yang berkaitan dengan hitungan.

Namun, cita-cita itu hanya bertahan hingga SMP. Memasuki SMA, keinginannya perlahan menghilang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tahun berlalu. Sulfani justru semakin bingung menentukan arah masa depannya. Sampai akhirnya, ia memilih mengikuti keinginan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di kampus Taman Siswa dan mengambil Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI), program studi yang juga ditempuh kakaknya.

Bacaan Lainnya

“Saya dari yang cuma ikut arus, jadi tahu mau ke mana,” kata Sulfani menggambarkan perjalanan kuliahnya, Jumat (25/9/2026).

Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi menggambarkan perubahan besar dalam dirinya selama menjalani pendidikan tinggi.

Kini, Sulfani bukan lagi perempuan yang bingung menentukan arah. Ia berhasil menyelesaikan studi dengan IPK 3,91 dan meraih predikat pujian.

Di balik pencapaian tersebut, ada perjalanan yang tidak selalu mudah.

Sulfani.
Sulfani.

 

Ketika Cita-Cita Hilang

Sulfani merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia adalah putri dari Irwan, seorang guru/PNS di SMA Negeri 1 Belo, dan Salbiah yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Ia menggambarkan keluarganya sebagai keluarga dari kalangan menengah. Namun, dalam perjalanan kehidupan, keluarganya juga pernah melewati masa-masa sulit.

“Ada masa-masa terpuruk penuh dengan air mata, tapi badai tersebut bisa dilalui,” tuturnya.

Dalam kondisi tersebut, orang tua tetap menjadi support system utama bagi Sulfani.

Mereka mendukung berbagai kegiatan yang dijalani, terutama yang berkaitan dengan pendidikan.

Sebelum memilih PTI, Sulfani sebenarnya pernah membayangkan dirinya menjadi guru matematika. Ia menyukai angka dan selalu antusias ketika pelajaran matematika dimulai.

Namun, ketika memasuki SMA, cita-cita itu perlahan memudar. Pilihan masuk perguruan tinggi akhirnya lebih banyak mengikuti arahan orang tua. Ia mengambil program studi yang sama dengan kakaknya.

Tetapi, perjalanan kuliah kemudian membantunya menemukan cara untuk memahami dirinya sendiri. Ia mulai memiliki ketertarikan baru terhadap psikologi.

Menurutnya, psikolog merupakan profesi yang menarik karena dapat memahami luka yang tidak terlihat secara fisik dan membantu orang yang mengalami persoalan mental menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Mungkin ia belum menjadi psikolog. Tetapi, dari perjalanan tersebut, Sulfani mulai memahami bahwa pendidikan tidak selalu tentang menemukan satu jawaban sejak awal.

Terkadang, arah justru ditemukan ketika seseorang berani menjalani prosesnya.

Salah satu ujian terbesar Sulfani datang setelah seminar proposal. Beberapa minggu setelah sempro, ia jatuh sakit dan harus menjalani masa pemulihan selama berbulan-bulan. Di saat teman-teman terus bergerak menyelesaikan tugas akhir, pengerjaan skripsinya justru tertunda.

BACA JUGA:  Diduga Curi Ayam, Pemuda di Bima Babak Belur Diamuk Massa

Kondisi itu membuat pikirannya sempat kalang kabut. Ia ingin segera menyelesaikan kuliah, tetapi tubuhnya belum memungkinkan. “Saya ingin cepat-cepat menyelesaikannya, tetapi di sisi lain fisik sedang drop. Itu cukup menekan saya sendiri,” ujarnya.

Sulfani memang tidak sampai berpikir untuk menyerah. Namun, berada di tempat yang sama dalam waktu cukup lama membuatnya merasa lelah.

Di tengah kondisi tersebut, dua sahabatnya, Mariam Ulva dan Meilan Sahlan, hadir membantu.

Keduanya bahkan membantu mengurus surat penelitian dan meminta tanda tangan dosen ketika Sulfani masih dalam kondisi sakit. Bantuan tersebut membuat Sulfani tidak sepenuhnya kehilangan jejak proses akademiknya.

Ketika kondisi tubuh mulai membaik, ia perlahan kembali mengerjakan tugas akhir. Sedikit demi sedikit, ia mulai turun melakukan penelitian ke sekolah.

Skripsi yang kemudian diselesaikannya berjudul “Pengembangan Media Mediverse Anatomy Berbantuan AR dan Gamifikasi untuk Meningkatkan Kreativitas Imajinatif Siswa Sekolah Dasar.”

Pilihan topik itu memperlihatkan bagaimana bidang teknologi informasi dapat dipadukan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

 

Belajar Bersama Orang-Orang yang Berarti

Jika sakit menjadi salah satu bagian tersulit dalam perjalanan kuliahnya, maka pertemanan menjadi salah satu bagian yang paling membuat Sulfani menikmati masa sebagai mahasiswa.

Baginya, tumpukan tugas akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama teman-teman. Saling bercerita, membicarakan hal-hal random, hingga membantu teman yang kesulitan mengerjakan tugas menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan.

Salah satu tempat yang paling ia ingat adalah saat dirinya dan teman-teman kelas B berkumpul di perumahan Sukma ketika waktu istirahat pergantian jam kuliah cukup panjang.

Banyak hal sederhana yang dilakukan bersama. Tidak ada satu peristiwa khusus yang mampu ia jelaskan satu per satu. Tetapi, justru kebersamaan itulah yang membuat kenangan tersebut begitu berarti. “Pokoknya ngumpul bareng anggota kelas B terbaik,” katanya.

Bagi Sulfani, pertemanan bukan sekadar pelengkap perjalanan kuliah. Mereka menjadi bagian dari alasan mengapa hari-hari penuh tugas tetap bisa dinikmati.

 

Kampus Mengajar dan Dunia di Luar Kelas

Selama menjadi mahasiswa, Sulfani juga tidak hanya beraktivitas di ruang kuliah.  Ia berhasil lolos sebagai peserta Kampus Mengajar Angkatan 7. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian yang paling ia banggakan.

Selain itu, ia berhasil menerbitkan artikel jurnal yang terindeks Sinta 4.

Sulfani juga pernah mengikuti kegiatan pengabdian BEM Berdampak bersama Ibu Mardian dan Mariamah di Dompu.

Berbagai pengalaman tersebut membuatnya melihat bahwa ilmu yang diperoleh di kampus dapat digunakan dalam berbagai ruang.

Sulfani saat mengajar siswa di kelas.
Sulfani saat mengajar siswa di kelas.

Baginya, menjadi sarjana pendidikan tidak berarti seseorang hanya memiliki satu jalan profesi.

“Bagi saya, menjadi sarjana pendidikan berarti saya dibekali cara berpikir untuk memahami manusia dan proses belajarnya. Artinya, saya bisa berkontribusi di bidang apa pun,” katanya.

Menurutnya, kemampuan mendidik, membimbing, dan menyampaikan gagasan dengan baik akan tetap dibutuhkan di mana pun seseorang bekerja.

BACA JUGA:  Tapak Tilas Anak Petani, Dulu pernah jadi Buruh, kini Sukses Duduk di Kursi Legislatif

Pandangan Sulfani tentang pendidikan juga terbentuk dari bidang yang ia pelajari. Ia melihat perkembangan teknologi sebagai salah satu tantangan besar dunia pendidikan. Namun, persoalannya bukan hanya bagaimana guru mengikuti perkembangan teknologi.

Ada tantangan lain yang tidak kalah penting: karakter. “Teknologi berkembang cepat banget, tapi nggak semua guru siap mengikutinya. Di sisi lain, siswa sekarang lebih mudah terpapar informasi, baik yang positif maupun negatif,” ujarnya.

Menurut Sulfani, guru ke depan tidak cukup hanya mampu mengajar. Guru juga harus menjadi penyaring informasi sekaligus teladan bagi siswa.

Karena itu, jika kelak menjadi tenaga pendidik, ia ingin terus belajar dan tidak terjebak pada cara-cara lama. Ia ingin menggunakan teknologi secara proporsional, tetapi tetap mempertahankan hal-hal mendasar seperti karakter dan kemampuan berpikir.

“Saya juga ingin belajar dari siswa, karena mereka hidup di zaman yang berbeda,” katanya.

Ia juga berharap pemerintah lebih memperhatikan pemerataan pendidikan, terutama antara sekolah di perkotaan dan daerah.

Menurutnya, masih ada guru di daerah yang menghadapi keterbatasan fasilitas, akses pelatihan, hingga kekurangan tenaga.

Karena itu, ia berharap kebijakan pendidikan benar-benar memperhatikan kondisi di lapangan, bukan hanya berhenti pada dokumen dan perencanaan.

 

Dari Ikut Arus hingga Menemukan Arah

Setelah wisuda, Sulfani berencana bekerja atau mencoba mengikuti seleksi MagangHub Batch 3. Ia tidak lagi seperti Sulfani ketika duduk di bangku SMA yang kebingungan menentukan masa depan.

Kini ia ingin terus belajar, bermanfaat, dan membuat orang-orang di sekitarnya merasa lebih baik.

Perjalanan itu memang belum selesai.  Tetapi setidaknya, ia sudah tahu ke mana harus melangkah.

Dari seorang anak yang dulu begitu yakin ingin menjadi guru matematika, kemudian kehilangan cita-cita, mengikuti pilihan orang tua, menghadapi sakit berbulan-bulan saat menyelesaikan skripsi, hingga akhirnya menemukan arah dan menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,91.

Perjalanan tersebut mengajarkannya bahwa tidak semua orang harus memiliki peta sejak awal. Kadang-kadang, arah baru terlihat setelah seseorang cukup jauh berjalan.

Kepada mahasiswa yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan kuliah, Sulfani berpesan agar tidak menyerah hanya karena hari ini terasa berat.

“Kalau hari ini terasa berat, ingat kamu sudah sejauh ini. Itu bukan hal kecil. Teruskan, karena versi dirimu di masa depan sedang menunggu dengan bangga.”

Dan untuk kedua orang tuanya, ada permintaan maaf sekaligus terima kasih yang ingin ia sampaikan pada hari wisuda. “Maaf kalau selama kuliah saya sering bikin khawatir. Terima kasih karena nggak pernah berhenti mendoakan saya. Gelar ini saya persembahkan sepenuhnya untuk Bapak dan Ibu.”

Hari wisuda akhirnya menjadi penanda bahwa masa ketika Sulfani hanya “ikut arus” telah berlalu. Kini ia telah menemukan arah. Dan langkah berikutnya adalah menentukan sejauh mana ia ingin berjalan. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait