Tapak Tilas Anak Petani, Dulu pernah jadi Buruh, kini Sukses Duduk di Kursi Legislatif

Ma’rif Takwa, anak petani yang pernah jadi buruh, sukses menjadi bisnisman tangguh dan anggota DPRD Kabupaten Bima. Foto Ist.
Ma’rif Takwa, anak petani yang pernah jadi buruh, sukses menjadi bisnisman tangguh dan anggota DPRD Kabupaten Bima. Foto Ist.

Pria kelahiran wilayah Utara Kabupaten Bima itu tak pernah menyangka akan menjadi anggota legislatif. Karena sejak kecil ia lahir dari keluarga sederhana. Ayah dan ibunya adalah pasangan suami-istri yang biasa bekerja di bawah terik matahari, menjadi petani di Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima. Catatan Idil Safitri.

Bacaan Lainnya

Sesekali suaranya mereda mengingat perjuanganya saat masa getir. Ia menyadari betul bahwa tangan dan mulut kedua orang tua serta istrinya yang selalu menengadah ke atas Ilahi diberengi kerja kerasnya lah yang mampu mengantarnya duduk di kursi legislatif.

Jika tak ada aral melintang, Ma’rif Takwa akan dilantik Ketua DPRD Kabupaten Bima, Muhammad Putera Ferryandi, Rabu (1/3/2023). Sumpah janji oleh dia juga akan dipandu oleh petugas rohani.

Sebelum menapaki dunia politik seperti saat ini, pria yang akrab disapa Moris Ambalawi ini pernah menjadi buruh di sawah dan ladang petani. Ia membantu membersihkan ladang dan memotong kayu di lahan pertanian.

Uang hasil keringatnya itu kemudian ia gunakan membantu orang tuanya. Sebagian ia gunakan untuk membayar biaya sekolah saat duduk di SMA Negeri 1 Ambalawi Kabupaten Bima, tahun 2006-2009 dan ia tabung untuk mendaftar kuliah pada salah satu perguruan tinggi di Kota Bima.

“Ketika dipanggil oleh keluarga atau petani yang membutuhkan tenaga untuk membersihkan ladang, saya pernah menjadi buruh. Itu saya lakukan kala menjadi siswa SMA tahun 2006- 2009. Membantu orang tua membayar uang sekolah,” cerita Ma’rif.

Sejak kecil Ma’rif ditempa dengan hidup sederhana, sehingga menjadi modal baginya kuliah di bawah kondisi ekonomi yang serba terbatas. Selepas bangku SMA, ia melanjutkan kuliah S-1 di kampus STKIP Bima. Selama masa kuliah, ia tinggal bersama sejumlah mahasiswa asal Ambalawi Kabupaten Bima di salah satu kos sederhana di Lingkungan Ranggo Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima. Terkadang ia harus mencari kawannya sesama mahasiswa asal Kecamatan Ambalawi, manakala perut tidak bisa diajak berkompromi karena persediaan beras telah beberapa hari habis.

Ia menyadari betul, bahwa dia kuliah dengan modal nekat di tengah kondisi ekonomi orang tuanya yang masih merangkak mengandalkan hasil pertanian, yang dipengaruhi musim hujan.

Selama menempuh kuliah, Ma’rif tidak pernah membatasi pergaulan dengan mahasiswa lain, terutama yang berasal dari Kecamatan Ambalawi dan Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Ia terus berupaya membantu memecahkan setiap persoalan yang dihadapi mahasiswa lain, sehingga membentuk ikatan kekeluargaan antara dia dan kawan-kawanya.

Saat mahasiswa dari kampungnya sepakat membentuk forum, ia dipercaya memimpin Ikatan Mahasiswa Ambalawi (IMAWI) selama dua periode, tahun 2010-2012. Bahkan pada periode selanjutnya ia diaklamasi tanpa pemilihan. Rasa persaudaraan dan senasib sesama mahasiswa secara tidak langsung membentuk jiwa kepemimpinanya. Ma’rif kemudian bergabung dan menjadi pengurus (DOJ) Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Bima 2011-2012.

Dia intens juga menyikapi berbagai ketimpangan dan menyikapi suara-suara sumbang dari masyarakat yang belum sampai ke telinga pengambil kebijakan, melalui serangkaian aksi unjuk rasa yang ia pimpin.

BACA JUGA: Duh, Literasi baru sebatas Jargon, Banyak Siswa SMA di Kabupaten Bima belum bisa Membaca

“Alhamdulilah berkat kepekaan itu, saya baru menyadari punya bakat sebagai seorang pemimpin. Saat saya baru semester 1 diberikan kepercayaan oleh teman-teman mahasiswa Ambalawi, menakhodai organisasi lokal tingkat kecamatan, IMAWI,” ujarnya.

Kepeduliannya terhadap sesama mahasiswa juga membangkitkan kepedulian Ma’rif terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Bagi dia, kiprahnya di tengah masyarakat kala menjadi mahasiswa saat itu, sekaligus sebagai bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi.

“Saya membangun kegiatan bhakti sosial mulai dari Desa Kole hingga Desa Mawu Kecamatan Ambalawi. Saya membangun kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan kegiatan keagaman. Jadi ada bekal yang terbentuk sejak menjadi mahasiswa,” ujarnya.

Saat menjadi Koordinator Umum Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) Bima pada tahun 2013 Ma,’rif juga getol menyuarakan penolakan terhadap aktivitas tambang pasir besi di wilayah Kecamatan Wera Kabupaten Bima, karena khawatir berdampak terhadap kelangsungan hidup masyarakat Ambalawi dan Kecamatan Wera yang selama ini mengandalkan ekonomi dari hasil mengelola sektor pertanian dan kelautan.

“Saya membela hak-hak masayarakat, mengadvokasi kepentingan rakyat lewat aksi. Saya memperjuangkan aspirasi masyarakat. Saat itu lahirnya undang-undang penanaman modal asing, hampir sembilan kecamatan di Kabupaten Bima, kontra dengan perusahaan tambang,” ujarnya.

Setelah lama berkecimpung dalam dunia pergerakan hingga menjadi pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM STKIP) Bima tahun 2011-2012, Moris kemudian digugah oleh seorang anggota intelijen militer yang kemungkinan saat itu sedang menggalang dia agar mencalonkan dari sebagai anggota DPRD.

Ia kemudian bergabung menjadi kader partai politik saat duduk di bangku kuliah semester 6.

“Beliau bilang kepada saya, Moris kamu sudah cukup dikenal oleh masyarakat, tidak usah lagi demo-demo yang lain-lain. Kamu harus masuk jadi anggota DPRD. Saya jawab waktu itu, menjadi anggota DPRD tidak mudah, menjadi anggota DPRD atau partai politik perlu lobi-lobi dan perlu kekuatan, apalagi sampai menjadi seorang Caleg,” kenang Moris.

Perlu waktu bagi dia untuk menghilangkan keraguan soal biaya politik (cost politics) setelah dibujuk oleh anggota intelijen kala itu. Pada Pemilu 2014, Moris kemudian memantapkan hati mendaftar sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Bima melalui daerah pemilihan Ambalawi dan Wera.

“Dari lima kursi yang ada di Wera-Ambalawi, Partai Gerindra tereliminasi, tidak mendapatkan kursi. Tapi saya memimpin lima kontestan yang tampil lewat Partai Gerindra. Akhirnya kami kembali maju pada tahun 2019 kemarin. Dari semua kompetitor tahun 2014, hanya saya yang bertahan maju kembali pada tahun 2019,” ujarnya.

Ma’rif Takwa, anak petani yang akan dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Bima melalui proses PAW di Ruang Utama Sidang DPRD Kabupaten Bima, Rabu (1/3/2023). Foto Ist

Pada Pemilu 2019, Moris mendapatkan perolehan suara urutan kedua setelah Boymin, yang kemudian dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Bima masa tugas 2019-2024. Namun tengah perjalananya duduk sebagai anggota legislatif, Boymin terseret kasus dugaan korupsi dana lembaga pendidikan luar sekolah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Karoko Mas Kecamatan Wera Kabupaten Bima yang pernah dikelolanya, hingga berproses di Pengadilan Tipikor Mataram.

“Saya menempati perolehan suara kedua di bawah Pak Boymin. Jadi saya tidak menyangka proses ini akan berdampak pada proses PAW. Ini semua, sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Rahasia Tuhan yang tidak kita ketahui. Tapi atas amanah baru dari Allah SWT ini, saya bersyukur. Saya akan menjadikan ini sebagai amal ibadah bagaimana meperbaiki diri, keluarga dan insya Allah untuk masyarakat banyak,” ujar dia.

BACA JUGA: Dua Desa di Bima Saling Serang saat Lebaran, Dua Kendaraan Dirusak dan Seorang Pemuda Terluka

Tak hanya memiliki jiwa petarung sebagai kontestan politik pada Pemilu, ayah dua anak ini ternyata berkaca dari kondisi ekonomi orang tuanya. Hal itu mengantarnya menggeluti bisnis jual-beli kacang hingga jagung.

Jiwa pantang menyerah membuatnya berhasil keluar dari terowongan gelap, meskipun ia pernah diuji kala kendaraan yang memuat puluhan karung kacang miliknya tiba-tiba mengalami kecelakaan di Desa Oi Tui Kecamatan Wera Kabupaten Bima.

“Saya diuji oleh Allah SWT, barang basah kena hujan, saya keringkan semua. Tapi alhamdililah tidak penah patah semangat. Saya terus bangkit berjuang dan bertarung, Alhamdulillah bisa menghidupi anak istri dan keluarga serta membangun rumah dan usaha lewat bisnis kacang,” cerita Moris.

Saat menggeluti usaha jual-beli kacang, sejak tahun 2016 Moris juga mulai merintis bisnis sebagai penyalur jagung. Maka tak heran, namanya cukup tenar di kalangan petani sejumlah kecamatan di Kabupaten Bima. Jagung yang dia kumpulkan dari petani, ia suplai ke perusahana penampung jagung, PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) dan PT Santosa Utama Lestari (SUL) yang berlokasi di Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima.

“Saya meneruskan perjuangan membuka bisnis jagung, karena Bima ini atau NTB didominasi petani jagung. Saya mulai bisnis jagung sejak tahun 2016. Alhamdulilah saya terdaftar sebagai supplier ternama di PT CPI dan PT SUL,” ujarnya.

Moris juga bersyukur, saat membangun karir politik melalui Partai Gerindra, ia mendapatkan jodoh dari desa yang tak jauh dari tanah kelahirannya. Ia menikahi wanita pujaan hatinya dari Desa Ujung Kalate Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima pada tahun 2013 silam, saat ia sibuk menjadi bakal calon legislative. Ia dan istrinya dianugerahi anak laki-laki dan perempuan.

“Saya didorong oleh ketua partai untuk segera menikah, mengakhiri masa lajang waktu itu. Pada tahun 2013 saya menikah, mengakhiri masa lajang. Alhamdililah saya dikaruniai seorang anak, satu laki dan satu perempuan,” ceritanya.

Sejak berkarir di dunia politik, ia tercatat pernah menjadi Ketua Pimpinan Anak Cabang Partai Gerindra Kecamatan Ambalawi dan saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Kabupaten Bima.

Tak sekadar hasil kerja kerasnya, Moris mengaku capaiannya saat ini berkat doa kedua orang tuanya, kerabat, istri dan orang-orang yang menyayanginnya selama ini.

“Ibu saya lahir di Desa Nanga Wera Kecamatan Wera dan ibu saya adalah seorang petani. Beliau sudah almarhumah, meninggalkan kami semua tahun 2015, kurang lebih 7 tahun sang ibu sudah meninggalkan kami. Ayah lahir di Desa Mawu Kecamatan Ambalawi. Sama-sama keluarga sederhana petani,” ujar dia.

Dia hanya berharap, ibunya yang telah tujuh tahun tiada ikut bangga atas pencaiananya saat ini, membina rumah tangga hingga memiliki anak dan berkarir di legislative Kabupaten Bima (*)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait