Kuliah Sambil Menggendong Bayi, Wulandari Trisnawati Raih IPK 3,88 dan Lulus sebagai Wisudawan dengan Pujian

Wisudawati terbaik angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima, Wulandari Trisnawati.
Wisudawati terbaik angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima, Wulandari Trisnawati.

ADA MASA ketika ruang kuliah bagi Wulandari Trisnawati bukan hanya menjadi tempat untuk menyimak dosen dan mencatat materi. Di ruang itu, perempuan asal Desa Sondosia, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, tersebut juga harus menjalankan peran sebagai seorang ibu.

Di sampingnya ada seorang bayi yang masih membutuhkan perhatian. Wulandari menjalani kuliah sambil bekerja dan mengasuh anak yang masih kecil. Bahkan, salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan pendidikannya terjadi ketika ia harus melakukan presentasi di depan kelas sambil menggendong anaknya yang terus menangis dan rewel.

Bacaan Lainnya

Situasi itu tidak membuatnya meninggalkan bangku kuliah. Ia tetap melanjutkan presentasi sembari menggendong buah hatinya.

“Yang paling saya ingat waktu saya presentasi di dalam kelas dan waktu itu juga anak saya selalu menangis atau rewel banget, tidak mau digendong sama siapa pun. Saya menggendong anak saya sambil presentasi,” kenang Wulandari.

Bagi Wulandari, momen tersebut menjadi salah satu gambaran nyata bagaimana ia menjalani pendidikan tinggi di tengah tanggung jawab sebagai ibu sekaligus pekerja.

Dan perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Matematika tersebut berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan IPK 3,88 dan predikat pujian.

Menjalani perkuliahan saja sudah membutuhkan konsistensi. Bagi Wulandari, tantangannya menjadi lebih kompleks karena pendidikan harus berjalan beriringan dengan pekerjaan dan kehidupan keluarga.

Ia harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Di saat yang sama, ia juga memiliki tanggung jawab sebagai seorang ibu.

“Kesulitannya di mana saya kuliah bersamaan dengan pekerjaan saya, di mana saya harus membagi waktu antara kuliah dan kerja,” ujarnya.

Namun, Wulandari mengaku tidak pernah sampai pada titik ingin menyerah. Keinginannya untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik menjadi salah satu alasan utama ia terus bertahan.

“Saya ingin masa depan lebih baik lagi dan sukses untuk ke depannya,” katanya.

Baginya, perjalanan tersebut mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Ia harus mampu mengatur waktu, menyelesaikan tugas perkuliahan, menjalankan pekerjaan, sekaligus memenuhi tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri.

Sejak kecil, Wulandari sudah memiliki cita-cita menjadi seorang pegawai negeri sipil. Cita-cita tersebut tidak berubah hingga ia dewasa. Kini, ia telah menjadi ASN melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

BACA JUGA:  Menolak Minder: Roni Muliadin, Lulusan PJKR STKIP Taman Siswa Bima yang Siap Wujudkan Mimpi Jadi Guru Profesional

Pencapaian tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan yang membuatnya bangga. Sebelumnya, saat masih sekolah, Wulandari juga terbiasa meraih prestasi akademik dengan masuk peringkat, bahkan beberapa kali meraih juara pertama dan kedua.

Ia juga pernah menjadi anggota Paskibra. Ketika memasuki perguruan tinggi, ia berusaha mempertahankan prestasi akademiknya hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,88 dan predikat pujian.

Bagi Wulandari, pencapaian tersebut bukan semata-mata tentang angka. Ia bangga karena berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu di tengah berbagai tanggung jawab yang harus dijalani.

“Kebanggaan saya bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu dengan predikat wisudawan terbaik, dan bisa membanggakan orang tua, suami, dan keluarga,” ujarnya Jumat (25/9/2026).

 

Doa Orang Tua dan Dukungan Suami

Dalam perjalanan tersebut, Wulandari menyebut orang tua dan suaminya sebagai sosok yang paling berjasa. Dukungan orang tua tidak hanya datang dalam bentuk materi, tetapi juga doa, semangat, dan motivasi.

Meski ayahnya, Alm. Suhermanto, telah berpulang, Wulandari tetap membawa doa dan perjuangan kedua orang tuanya sebagai bagian dari perjalanan pendidikannya. “Saya menyadari bahwa di balik setiap langkah yang saya capai ada doa dan perjuangan orang tua yang mungkin tidak selalu terlihat,” katanya.

Di sisi lain, suami menjadi sosok penting yang mendampingi Wulandari melewati fase ketika dirinya harus membagi perhatian antara kuliah, pekerjaan, dan keluarga.

Baginya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan tidak berdiri sendiri. Ada banyak orang yang ikut menopang setiap langkahnya.

Karena itu, ketika wisuda tiba, Wulandari tidak hanya ingin merayakan keberhasilan dirinya sendiri. Ia ingin mempersembahkan pencapaian tersebut kepada orang tua, suami, dan keluarganya.

Setelah menyandang gelar sarjana pendidikan, Wulandari tidak ingin berhenti belajar.

Menurutnya, menjadi sarjana bukan sekadar mendapatkan gelar akademik, tetapi juga membawa tanggung jawab untuk terus belajar, berbagi ilmu, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Ia berencana mengembangkan diri di dunia kerja dan menerapkan ilmu yang diperolehnya selama kuliah, termasuk kepada anak-anaknya.

“Saya ingin menerapkan ilmu yang sudah saya dapatkan selama kuliah untuk anak-anak saya dan bisa bermanfaat juga untuk orang lain,” ujarnya.

Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, Wulandari melihat perkembangan teknologi dan perubahan kurikulum sebagai tantangan yang harus dihadapi guru.

BACA JUGA:  Anak Tukang Las Raih IPK 3,92: Kisah Inspiratif Januar dari Desa Tolowata Menuju Beasiswa S2

Menurutnya, teknologi seharusnya memperkuat sisi kemanusiaan dalam pendidikan, bukan menggantikannya.

Wulandari Trisnawati saat mendampingi siswa di kelas.
Wulandari Trisnawati saat mendampingi siswa di kelas.

Guru juga dituntut terus beradaptasi karena kurikulum dan kebutuhan pendidikan terus berkembang. Karena itu, ia ingin terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi.

Namun, menurut Wulandari, kemampuan guru tidak cukup hanya membuat siswa pintar menjawab soal. Guru juga harus membantu siswa menjadi manusia yang mampu berpikir, memiliki karakter, dan mandiri.

Wulandari berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan terus mendorong pemerataan kualitas pendidikan di daerah. Menurutnya, perhatian terhadap pendidikan tidak hanya menyangkut fasilitas dan akses belajar, tetapi juga kesejahteraan serta perlindungan bagi guru.

Ia berharap setiap anak memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak, sementara guru mendapatkan dukungan untuk menjalankan tugasnya secara optimal.

Perjalanan kuliahnya sendiri ia gambarkan sebagai proses yang penuh tantangan dan pengalaman.

“Perjalanan kuliah saya merupakan proses yang penuh tantangan dan pengalaman, yang mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan terus berusaha berkembang,” katanya.

Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan kuliah, Wulandari berpesan agar tidak terlalu membandingkan perjalanan mereka dengan orang lain.

“Setiap orang memiliki waktu, tantangan, dan jalannya masing-masing. Tetaplah bertahan dan berjuang untuk terus mencapai keberhasilan. Tetap semangat,” pesannya.

Dan untuk orang-orang yang selalu berada di belakang perjuangannya, Wulandari memiliki pesan sederhana. “Terima kasih banyak kuucapkan untuk kedua orang tua yang selalu mendukung dan mendoakan keberhasilan untuk anakmu ini. Terima kasih sudah menjadi orang tua yang terbaik bagi anakmu,” ucapnya.

Pesan itu kemudian ia lanjutkan untuk sang suami. “Terima kasih banyak kepada suami saya yang sudah mendukung saya selama ini dan memberikan semangat untuk saya. Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang lebih sempurna bagimu.”

Di balik toga dan predikat pujian yang diraihnya, ada kisah tentang seorang ibu yang datang ke ruang kuliah bersama bayinya, seorang pekerja yang harus membagi waktu, dan seorang perempuan yang sejak kecil tidak pernah melepaskan cita-citanya.

Ia membuktikan bahwa perjalanan menuju pendidikan tinggi tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Namun, dengan dukungan keluarga, disiplin, dan kemauan untuk terus melangkah, tanggung jawab yang datang bersamaan pun dapat dijalani hingga sampai di garis akhir. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait