Dibesarkan Nenek dan Uwak Sejak Usia 5 Tahun, Rosdiana Raih IPK 3,94 dan Tetap Memilih Jalan Pendidikan

Wisudawati terbaik angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima, Rosdiana. Kolase Berita11.com.
Wisudawati terbaik angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima, Rosdiana. Kolase Berita11.com.

TIDAK SEMUA perjalanan menuju toga wisuda dimulai dari keadaan yang mudah. Bagi Rosdiana, perjalanan itu justru tumbuh dari sebuah keluarga yang tidak lagi utuh sejak dirinya masih berusia sekitar lima tahun.

Saat itu, kedua orang tuanya, Dedi Ferdiansyah dan Hasna, memutuskan untuk berpisah. Rosdiana bersama adiknya kemudian dibesarkan oleh nenek dan Uwak. Dari rumah sederhana itulah, perempuan asal Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, tersebut tumbuh dan menata masa depannya.

Bacaan Lainnya

Kini, setelah melewati berbagai keterbatasan dan tantangan, Rosdiana berhasil menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Sejarah dengan IPK 3,94 dan predikat wisudawan dengan pujian.

Bagi Rosdiana, pencapaian itu bukan sekadar angka di lembar hasil studi. Di baliknya ada perjalanan panjang, dukungan keluarga, serta perjuangan untuk tetap bertahan ketika keadaan membuatnya sempat meragukan kemampuan diri sendiri.

“Saya tidak ingin menjadikan keadaan keluarga saya sebagai alasan untuk menyerah atau merasa rendah diri. Justru dari pengalaman tersebut, saya ingin menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berusaha, meraih cita-cita, dan membahagiakan orang-orang yang telah merawat serta mendukung saya selama ini, terutama nenek dan Uwak saya,” ujar Rosdiana.

Rosdiana merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kedua orang tuanya berpisah, kehidupan sehari-harinya lebih banyak dijalani bersama nenek dan Uwak.

Ayahnya bekerja sebagai sopir kendaraan roda enam, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Meski kedua orang tuanya tetap memberikan dukungan, terutama dalam hal materi, Rosdiana mengatakan dukungan terbesar dalam perjalanan pendidikannya justru dirasakan dari nenek dan Uwak yang merawatnya sejak kecil.

“Mereka selalu berusaha memberikan dukungan kepada saya, baik dalam hal pendidikan maupun kehidupan sehari-hari. Meskipun keadaan kami tidak selalu mudah, mereka selalu mengingatkan saya untuk tetap sekolah, belajar dengan sungguh-sungguh, dan tidak mudah menyerah,” tuturnya.

Keadaan tersebut perlahan membentuk karakter Rosdiana. Ia belajar mandiri, bertanggung jawab, sekaligus memahami bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh siapa yang tinggal bersama.

Baginya, keluarga adalah mereka yang tetap hadir, peduli, memberikan kasih sayang, dan mendukung ketika seseorang membutuhkan kekuatan.

Karena itu, keberhasilan menyelesaikan kuliah menjadi sesuatu yang sangat personal bagi Rosdiana. Ia ingin suatu hari dapat membalas perhatian dan pengorbanan orang-orang yang telah membesarkannya.

Sejak kecil, Rosdiana sudah memiliki cita-cita menjadi seorang pendidik. Keinginan itu tidak berubah meski perjalanan hidupnya penuh tantangan.

BACA JUGA:  Kisah Afni: Dari Pas-pasan hingga Raih IPK Nyaris Sempurna Berkat KIP Kuliah
Rosdiana saat membimbing siswa di luar KBM aktif.
Rosdiana saat membimbing siswa di dalam kelas.

Ketika memasuki perguruan tinggi, ia memilih Pendidikan Sejarah. Selama kuliah, ia tidak hanya berkutat dengan materi perkuliahan, tetapi juga aktif dalam organisasi, kegiatan kemasyarakatan, praktik mengajar, dan KKN.

Pengalaman mengikuti KKN menjadi salah satu bagian yang paling berkesan baginya. Ia mendapatkan kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat, bekerja dalam tim, menghadapi berbagai persoalan, sekaligus belajar bagaimana memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan nilai atau gelar, tetapi juga tentang bagaimana kita berkembang menjadi pribadi yang mampu memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar,” katanya.

Perjalanan kuliah tidak selalu mudah. Keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga terkadang membuatnya khawatir terhadap biaya pendidikan maupun kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, ada masa ketika Rosdiana merasa lelah dan sempat berpikir apakah dirinya mampu menyelesaikan kuliah hingga akhir.

Namun, bayangan tentang perjuangan nenek dan Uwak selalu menjadi pengingat. “Saya belajar untuk menjalani semuanya satu per satu, tidak terlalu memikirkan kesulitan yang ada sekaligus, dan terus berusaha meskipun perlahan,” ujarnya.

 

Dari Paskibraka hingga Pelatih LKBB

Di luar ruang kuliah, Rosdiana juga memiliki perjalanan panjang dalam kegiatan organisasi dan kepemudaan.

Saat masih sekolah di SMA Negeri 2 Bolo, ia aktif di OSIS, Pramuka, dan Paskibra. Ia juga menjadi bagian dari Paskibraka Kabupaten Bima tahun 2021 dan Purna Paskibraka Indonesia 2021.

Kegiatan tersebut mengajarkannya kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, dan keberanian.

Semangat itu kemudian dibawa hingga perguruan tinggi. Rosdiana aktif di HMPS Program Studi Sejarah, pernah menjadi pengurus Dewan Perwakilan Mahasiswa pada 2024, serta menjadi panitia PKKMB pada 2023.

Ia juga mengikuti berbagai seminar dan pernah menjadi peserta Simposium Pemilu 2024.

Pengalamannya tidak berhenti di lingkungan kampus. Sejak menyelesaikan SMA, Rosdiana telah aktif menjadi pelatih gerak jalan dan Latihan Keterampilan Baris-Berbaris (LKBB) di SMA Negeri 2 Bolo.

Kini, aktivitas tersebut telah memasuki tahun keempat. Bagi Rosdiana, menjadi pelatih bukan hanya mengajarkan baris-berbaris. Ia juga berusaha membentuk kedisiplinan, kekompakan, mental, dan keberanian siswa.

“Saya bertugas melatih kedisiplinan, kekompakan, ketepatan gerakan, serta mental para siswa. Bagi saya, menjadi pelatih bukan hanya tentang mengajarkan baris-berbaris, tetapi juga bagaimana membimbing, memberikan motivasi, dan menjadi contoh yang baik bagi generasi muda,” katanya.

Di tengah kesibukan tersebut, Rosdiana juga pernah menjadi anggota KPPS pada Pemilu 2024 dan Pilkada 2024. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial masyarakat dan beberapa kali dipercaya menjadi pembawa acara atau MC dalam kegiatan formal di desa.

Kini, ia dipercaya sebagai Sekretaris Karang Taruna Desa Sanolo. Bagi Rosdiana, seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang tidak diperoleh hanya dari ruang kelas.

BACA JUGA:  Sering dapat Cibiran, Leni Buktikan jadi Calon Wisudawati Terbaik, Skripsi tanpa Revisi

Menjadi sarjana pendidikan bagi Rosdiana bukan akhir perjalanan. Justru, gelar tersebut ia pandang sebagai awal tanggung jawab baru untuk mengabdikan ilmu dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Setelah wisuda, ia berencana mengembangkan karier di bidang pendidikan dan menjadi guru sejarah.

“Saya ingin menerapkan ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama kuliah untuk membantu siswa belajar dengan lebih baik,” katanya.

Rosdiana menyadari dunia pendidikan terus berubah. Menurutnya, salah satu tantangan guru ke depan adalah beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai karakter dan kemanusiaan.

Guru, menurutnya, bukan hanya dituntut mampu menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran, tetapi juga harus mampu membimbing siswa agar kritis, berkarakter, dan bijak menggunakan informasi.

Karena itu, ia ingin terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus tetap menanamkan kedisiplinan, karakter, serta kemampuan berpikir kritis kepada peserta didik.

Ia juga berharap pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan terus memperhatikan pemerataan kualitas pendidikan di daerah, terutama fasilitas, akses teknologi, dan peningkatan kompetensi guru.

“Setiap siswa di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, sehingga mereka dapat berkembang dan meraih cita-cita tanpa terkendala oleh kondisi daerahnya,” ujarnya.

 

Persembahan untuk Ibu, Bapak, Nenek dan Uwak

Ketika diminta menggambarkan perjalanan kuliahnya dalam satu kalimat, Rosdiana menyebutnya sebagai perjalanan penuh perjuangan, tantangan, dan pengalaman yang mengajarkannya untuk tidak menyerah hingga mencapai titik yang diimpikan.

Pesannya kepada mahasiswa yang masih berjuang pun sederhana: jangan mudah menyerah. “Nikmati setiap prosesnya, tetap fokus pada tujuan, dan percaya bahwa setiap perjuangan yang kita jalani hari ini akan menjadi bagian dari keberhasilan kita di masa depan,” katanya.

Dan ketika toga akhirnya dikenakan, ada nama-nama yang ingin ia sebut sebagai bagian paling penting dari pencapaiannya. Bukan hanya dirinya sendiri.

“Persembahan terbaik ini saya persembahkan untuk Ibu dan Bapak. Terima kasih untuk kasih sayang yang utuh, terkhusus untuk Nenek dan Uwak saya dan seluruh keluarga besar yang senantiasa selalu memberikan dukungan kepada saya.”

Bagi Rosdiana, IPK 3,94 dan predikat pujian mungkin menjadi penanda keberhasilan akademik.  Namun, lebih dari itu, toga wisuda menjadi simbol bahwa keadaan sulit tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

Jika tak ada aral melintang, ia akan dikukuhkan sebagai wisudawan dalam prosesi Rapat Senat Terbuka Wisuda S1 Angkatan XXII di Auditorium Sudirman, kampus STKIP Taman Siswa Bima. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait