SEJAK KECIL, Maharani Syahputri sudah akrab dengan dunia pendidikan. Bukan hanya karena tumbuh dalam lingkungan yang menjadikan pendidikan sebagai bagian penting kehidupan keluarga, tetapi juga karena ia melihat langsung sosok ayahnya menjalani profesi sebagai seorang dosen.
Dari sanalah cita-cita Maharani untuk menjadi dosen tumbuh.
Kini, perempuan yang akrab disapa Rani itu berhasil menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Sejarah dengan IPK 3,91 dan predikat wisudawan dengan pujian. Jika tak ada aral melintang, ia akan dikukuhkan sebagai sarjana pendidikan melalui prosesi Rapat Senat Terbuka Wisuda S1 Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima di Auditorium Sudirman kampus STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).
Bagi Rani, pencapaian tersebut bukan sekadar angka atau gelar akademik. Di baliknya ada doa orang tua, proses panjang, berbagai tantangan selama kuliah, serta pengalaman yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
“Saya bersyukur tumbuh dalam keluarga yang selalu mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya tentang mendapatkan prestasi, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap rendah hati, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujar Rani.
Rani merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia lahir dan besar di Sanolo, Kabupaten Bima, dalam keluarga sederhana yang penuh dukungan.
Ayahnya, Syahbuddin, berprofesi sebagai dosen, sedangkan ibunya, Sri Khairunah, merupakan ibu rumah tangga.
Dari sang ayah, Rani belajar tentang pentingnya pendidikan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan bagaimana ilmu seharusnya dibagikan kepada orang lain.
Sementara dari ibunya, ia belajar tentang kesabaran, ketulusan, dan kepedulian. Kedua sosok tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Rani.
“Setiap pencapaian yang saya raih selalu saya anggap sebagai bagian dari dukungan dan doa mereka. Karena itu, menjadi mahasiswa terbaik bukan hanya menjadi kebanggaan bagi saya, tetapi juga bentuk kecil dari rasa terima kasih saya kepada kedua orang tua yang selama ini selalu percaya dan mendukung saya,” katanya.
Cita-cita menjadi dosen yang tumbuh sejak kecil pun tidak pernah berubah. Justru, semakin jauh perjalanan pendidikannya, keinginan tersebut semakin kuat.
Bagi Rani, menjadi dosen bukan sekadar memiliki profesi untuk mengajar. Ia ingin menjadi pendidik yang dapat menjadi tempat mahasiswa belajar, berdiskusi, berkembang, dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
“Menjadi dosen bagi saya bukan hanya tentang sebuah profesi, tetapi tentang bagaimana ilmu yang kita miliki dapat dibagikan dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Selama menjalani pendidikan tinggi, Rani tidak hanya berfokus pada capaian akademik.
Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar ruang kelas. Pengalaman organisasinya dimulai sejak sekolah melalui Pramuka dan OSIS. Saat kuliah, ia bergabung dalam Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) pada 2024.
Rani juga mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, mulai dari seminar internasional hingga Kampus Mengajar Angkatan 7.
Ia juga mengikuti KKN 2025, KPUM, serta terlibat dalam penelitian mengenai Uma Lengge Wawo.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan banyak orang dan situasi yang berbeda. Dari sana, Rani belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas.
Ia belajar memahami perbedaan, bekerja sama, menghadapi persoalan, serta bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambil.
“Selama kuliah, saya bertemu dengan banyak orang dengan latar belakang, pemikiran, dan pengalaman yang berbeda. Dari sana saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan nilai, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar memahami orang lain, bekerja sama, menghadapi masalah, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang kita ambil,” tuturnya.
Salah satu pencapaian yang turut menjadi bagian dari perjalanan akademiknya adalah publikasi jurnal ilmiah.
Bagi Rani, pengalaman tersebut memperluas pemahamannya bahwa menjadi mahasiswa tidak hanya tentang menyelesaikan tugas perkuliahan, tetapi juga belajar menghasilkan pengetahuan dan mengembangkan kemampuan akademik.
Ketika Lelah, Ia Mengingat Kembali Tujuan
Perjalanan menuju predikat wisudawan dengan pujian tentu tidak selalu berjalan mulus. Rani mengaku pernah berada pada masa ketika dirinya merasa lelah dan bertanya kepada diri sendiri apakah mampu menyelesaikan semua tanggung jawab dengan baik. Tuntutan tugas dan berbagai kegiatan terkadang membuatnya berada pada titik yang cukup berat. Namun, ia memilih tidak berhenti.
Rani berusaha mengatur waktu, menentukan prioritas, dan memberikan ruang bagi dirinya untuk beristirahat ketika merasa terlalu lelah. “Saya belajar bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling cepat, tetapi oleh siapa yang mampu terus bertahan dan konsisten menjalani proses,” katanya.
Ketika rasa lelah datang, ia kembali mengingat alasan mengapa dirinya memulai pendidikan. Ada harapan dan doa kedua orang tua yang selalu mengiringi langkahnya. Ada pula cita-cita menjadi dosen yang sejak kecil ia simpan.
Hal-hal tersebut menjadi pengingat agar dirinya kembali melanjutkan perjalanan. “Bertahan bukan berarti tidak pernah merasa ingin menyerah, tetapi memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan meskipun sedang berada dalam keadaan yang sulit,” ujarnya.
Perhatian Rani terhadap pendidikan juga tercermin dalam penelitian akhirnya. Ia mengangkat penelitian berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Quizizz pada Materi Nasional untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa.”
Penelitian tersebut mempertemukan bidang yang ia tekuni sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah dengan perkembangan teknologi dalam pembelajaran. Hal itu sejalan dengan pandangannya mengenai tantangan pendidikan ke depan.
Menurut Rani, guru dan dunia pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan perhatian terhadap pembangunan karakter dan nilai-nilai positif peserta didik.
Guru, menurutnya, perlu terus belajar dan beradaptasi agar pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan zaman. “Saya ingin terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, serta tetap menanamkan karakter dan nilai-nilai positif kepada peserta didik,” katanya.
Pandangan tersebut juga menjadi bekal bagi Rani dalam mengejar cita-citanya menjadi dosen. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 setelah menyelesaikan studi sarjana. Di sisi lain, ia juga berencana membangun usaha kecil-kecilan.
Setelah menyandang gelar sarjana, Rani berharap ilmu yang diperolehnya tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ia ingin mengamalkan ilmu, terus mengembangkan diri, membangun karier, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Bagi Rani, menjadi sarjana pendidikan berarti membawa tanggung jawab untuk memberikan ilmu, menjadi teladan, dan ikut berkontribusi mencerdaskan generasi penerus.
“Saya berharap dapat mengamalkan ilmu yang saya miliki, terus mengembangkan diri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan terus meningkatkan kualitas pendidikan di daerah, baik melalui fasilitas, pemerataan akses maupun pengembangan kompetensi guru.
Menurutnya, setiap anak harus memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak. Perjalanan kuliah sendiri ia gambarkan sebagai perjalanan penuh perjuangan dan tantangan yang mengajarkannya untuk terus belajar, berproses, dan tidak menyerah.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan kuliah, ia berpesan agar tetap menjalani proses dengan sabar. “Tetap semangat dan jangan mudah menyerah. Nikmati setiap prosesnya, karena setiap perjuangan dan usaha yang dilakukan hari ini akan membawa kita lebih dekat pada cita-cita dan masa depan yang diharapkan,” pesannya.
Saat wisuda, ada dua sosok yang ingin ia jadikan tujuan dari persembahan keberhasilannya, yakin ayah dan ibunya.
“Terima kasih, Bapak dan Ibu, atas setiap doa, kasih sayang, dukungan, dan pengorbanan yang telah diberikan selama ini. Gelar yang saya raih hari ini bukan hanya hasil perjuangan saya, tetapi juga hasil dari doa dan perjuangan Bapak dan Ibu,” ucap Rani.
Dari Sanolo, ia membawa cita-cita yang sudah tumbuh sejak kecil. Cita-cita yang lahir dari melihat ayahnya mengajar dan berbagi ilmu, lalu kini perlahan berubah menjadi tekad untuk membangun jalannya sendiri sebagai seorang pendidik. (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News












